Kepercayaan Terkait Kesehatan di Masyarakat Papua Barat



Seri #1 Tempel kertas di dahi saat cegukan

Ce gu kan. Yups, kita semua pasti pernah mengalami yang namanya cegukan (hipcup). Untuk mengatasi cegukan terdapat banyak variasi di masyarakat untuk menghilangkannya dan kebanyakan adalah dengan meminum air, utamanya air hangat. Begitupun dengan tradisi dan kebiasaan yang satu ini. Di Papua Barat, khususnya di Misool Raja Ampat, ada kebiasaan unik mengenai cara mengatasi cegukan pada anak-anak. Apabila anak kecil cegukan, yang dilakukan orangtua adalah dengan menempelkan potongan atau robekan kertas kecil ke dahi anak yang cegukan. Cara menempelnya bisa dengan dibasahi air. Cara ini dipercaya dapat mengatasi cegukan pada anak. Nah-nah-nah.. unik kan. Silahkan dicoba untuk membuktikannya..

Ponakan saya niii, hehe

Lanjut, mengenai cegukan itu sendiri untuk bisa lebih memahaminya, sebaiknya kita mengetahui dulu mekanisme cegukan atau bagaimana bisa terjadinya cegukan secara medisnya, saya coba jelaskan dengan sederhana yaa.

Cegukan adalah peristiwa fisiologi yang abnormal, dimana terjadi kontraksi yang tidak menentu dari otot diafragma dan otot antartulang kosta (m. intercostalis) yang terjadi secara tiba-tiba dan diikuti dengan penutupan laring, yang menyebabkan masuknya udara dengan cepat ke paru-paru serta tertutupnya pita suara hingga menghasilkan suara “hic”. Otot diafragma (otot yang membatasi rongga dada-rongga perut) dan otot intercostalis berperan dalam proses inspirasi/tarik napas dan ekspirasi/buang napas.

Secara umum cegukan dibagi menjadi dua jenis, yaitu cegukan biasa yang dapat berhenti dengan sendirinya dan cegukan persisten. Cegukan biasa, cegukan jenis ini dipercaya disebabkan oleh regangan dan iritasi lambung yang terjadi secara cepat, dikarenakan terlalu banyak makan, makan terlalu cepat, memakan makanan pedas, meminum minuman berkarbon, kembung, atau memakan dua makanan yang berbeda suhunya (misal minum air panas, lalu langsung minum es). 
Ketika cegukan terjadi secara terus-menerus selama 48 jam atau lebih maka disebut cegukan persisten, bahkan bisa lebih dari 2 bulan. Penyebab dari cegukan persisten yaitu adanya gangguan aliran darah atau tumor  yang terletak di otak, atau diafragma, esofagus, atau karena adanya reflux gastroesofagus. Penyebab lainnya yaitu efek dari obat kemoterapi, agen anastesi, atau dikarenakan prosedur medis seperti kateterisasi vena sentral dan bronkoskopi, dan lain sebagainya. 
Cegukan persisten harus mendapat pengobatan selanjutnya ke layanan kesehatan, dan diberikan obat sesuai dengan dosis dan aturan pakai yang diresepkan. Bersamaan dengan itu terdapat juga terapi non-obat lainnya mulai dari operasi, akupuntur, gag-reflex (reflex muntah dengan menyentuh atas rongga mulut bagian belakang, mekanismenya yaitu akan merestorasi ritme saraf prenikus dengan adanya reflex gag yang membuat berhentinya inspirasi sementara), selain itu juga dengan menahan napas hingga manuver Heimlich termodifikasi. Ingin baca lengkapnya bisa baca sendiri di sumber bacaan di ahir tulisan yaa…

Tapi mari kita perdalam lagi sedikit, kok bisa sii, Gimana alurnya tuuu?, oke.. ceritanya ada si Beno yang lagi makan pisang goreng + sambal yang banyak  dan Beno makan dengan sangat cepat karena saking laparnya. Makanan Beno tadi masuk dengan cepat ke lambungnya dan jumlahnya berlebihan sehingga membuat lambung Beno meregang dengan cepat, ditambah lagi sambal yang dapat membuat iritasi kecil. Adanya regang dan iritasi ini dapat menstimulasi suatu jalur reflex, dimana serat saraf aferen limb (yaitu saraf prenikus/saraf di diafragma, saraf vagus dan simpatis) yang akan mengantarkan sinyal ke otak (dalam hal ini ke otak tengah/midbrain), dari otak akan ada sinyal perintah melalui serat eferen menuju ke serat motorik otot ke diafragma dan ke otot interkostal sehingga terjadi kontraksi yang tidak teratur tersebut. Jalur reflex ini akan mengakibatnya Beno mengalami cegukan. Cegukan jenis ini akan hilang dengan sendirinya.


Alur kejadian Beno hingga cegukan


Nah dari sini, kita bisa menilai secara ilmiah kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat dengan menempel kertas pada dahi anak-anak. Apakah ini bisa menjadi faktor berhenti melalui proses modulasi, peralihan, sugesti atau sebagainya. bisa iya bisa tidak, untuk dikatakan secara pasti, butuh penelitian lebih lanjut… oh’ho..

Dari sini, kita dapat mengambil pelajaran, makanlah yang baik dengan cara yang baik. Seperti yang telah diajarkan oleh Rasulullah Salallahu’alaihiwasalam dari sabdanya :

 “Tidak ada bejana yang diisi oleh manusia yang lebih buruk dari perutnya, cukuplah baginya memakan beberapa suapan sekedar dapat menegakkan tulang punggungnya (memberikan tenaga), maka jika tidak mau, maka ia dapat memenuhi perutnya dengan sepertiga makanan, sepertiga minuman dan sepertiga lagi untuk nafasnya.” (Hasan: Diriwayatkan oleh Ahmad (IV/132), Ibnu Majah (no. 3349), al-Hakim (IV/ 121). Lihat Irwaa-ul Ghaliil (no. 1983), karya Syaikh al-Albani rahimahullah.)


Makan dengan porsi cukup, dan makanlah sebelum lapar, berhentilah sebelum kenyang. Bismillah. sekian mengenai cegukannya, nanti ane post lagi kebiasaan mengenai kesehatan di masyarakat lainnya. Yuhuh…. 

**notes: #kelasmenulisbersamakakDayu benar-benar memicu menulisku saat ini, dimasa liburan dan jaga jarak ini, memang harus lebih produktif dengan menulis.

Sumber :
  1. Full-Young Chang, Ching-Liang Lu. Hiccup: mystery, nature, and treatment. Neurogastroenterol Motil. 2012: Diakses 10 Apr 17. http://dx.doi.org/10.5056/jnm.2012.18.2.123
  2. https://almanhaj.or.id/4005-adab-adab-makan-dan-minum.html

Comments

Popular Posts