Seri 1 #randome
Pertama~tak terlupa
Bismillah.
Tulisan
ini berangkat dari perasaan sedih karena foto-foto kenangan lama terhapus saat
laptop terinstal ulang, lebih tepatnya mengganti harddisk internal. Huft. Dari
semua kenangan dan materi yang turut hilang, ada satu kenangan pertama yang
penuh makna. Foto kenangan saat berada di Istanbul Turki, tinggal beberapa saja yang tersimpan di hp. 😬 .
| Blue Mosque |
***
Perjalanan
ke Istanbul akhir Oktober 2015 lalu, dalam rangka presentasi poster ilmiah,
hasil tulisan dari kegiatan penelitian tentang HIV/AIDS pada anak sekolah SMA
di Sorong saat kegiatan bakti sosial pertama kampus.
Perjalanan
ke Istanbul menjadi perjalanan tak terlupakan karena banyak ha-hal pertama
disana. Pertama kali bagiku bepergian ke luar negeri, pertama mengikuti
presentasi poster ilmiah, dan pertama dalam sejarah fakultas ku untuk
memberangkatkan mahasiswanya, karena baru berjalan sekitar 1,5 tahun, juga,
saya salah satu mahasiswa angkatan pertamanya. Hehe. Siapa yang mengira,
tulisan biasa ini bisa tembus di acara Wonca Europe tingkat internasional yang
diadakan di Istanbul Turki tahun itu dan keberangkatannya, Alhamdulillah full
didanai oleh kampus. Semua ini tidak terlepas dari Kehendak dan Kuasa Allah
Subhanahuwata’ala. Juga dari perantara jasa dan peran besar pembimbing kami, dosen
kami, juga guru kami, dr.Trevino Aristarkus Pakasi. Walau telah selesai masa pengajaran
dari pengampuan, beliau masih sering komunikasi bersama kami dan masih dianggap
sebagai mahasiswanya. Sehat selalu Dokter.
Walaupun
sebagian besar foto lucu-lucu dan bersejarahnya telah terhapus, kenangannya
tidak akan terhapus. Itulah mengapa, ingin kutuliskan saja disini. Oke..
Apayaaa,
dimulai dari perjalanan dulu kali yaa.. Pertama tentu saja, saya bersama Ade
(teman saya yang juga mewakili kampus) berangkat ke Jakarta, kemudian
keesokannya, bersama dokter dan om Im ke Istanbul (om Im ini keluarga dr,Trev,
dan sudah cukup dekat dengan kami, sudah duluan dipanggil om malah). Lepas dari
bandara Soetta kita ke Istanbul. Kami sebenernya ngekor aja bareng dr.Trev,
kurang paham alur-alur ke luar negerinya), sambil belajar.
Langsung
ke Istanbul? No dear. Ceritanya kami pake Qatar Airways. Perjalanan pertama dari
Jakarta ke Bandara Doha (ibukotanya Qatar) sekitar 8 jam perjalanan, turun dari
pesawat dan transit beberapa jam disana. Kemudian melanjutkan perjalanan
panjang lagi sekitar 4 jam ke Istanbul. Pegel? iya, keram? Banget. Tapi
menurutku debest sii pelayanan pesawat Qatar, dari makanan segala macam tapi
ada yang cocok di lidah, pramugari dengan pakaian yang lebih tertutup plus
ramah, juga berbagai hiburan depan mata yang bisa dipilih, mulai lagu, games, film,
dll. Pelayanannya juga baik, diberi selimut, dan apa yang diminta guna
mendukung kenyamanan perjalanan berjam-jam lamanya ini. Sebelum berangkat ada
juga doa yang turut dibacakan, yang bisa membuat lebih tenang, keren deh
pokoknya. Sa habisin waktu dengan membaca, lanjut denger lagu dan nonton film
korea yang ada di playlist, hehe, ada juga pilihan dengar Murrotal Al-Qur’an).
Berkali-kali ku cek gambar peta penerbangan untuk melihat sudah sampai mana dan
masih berapa lama lagi, hingga akhirnya sampai ke Turki juga pada pagi hari nya.
Pagi
itu, langit tampaak sangat cerah, keluar dari pintu bandara, pemandangan yang
sama seperti saat tiba di Jakarta, kami dihujani banyak penyedia layanan taxi
dengan bahasa Turki yang tak kumengerti, ada juga dengan bahasa Inggris. Akhirnya
terpilih juga taxi dengan driver berpostur tubuh cukup besar dan selalu bicara,
menjawab apa saja yang ditanyakan. Taxi warna kuning yang tidak terlalu besar,
tapi cukup untuk kami ber-4 dengan barang bawaan kami. dokter duduk di depan,
kami ber tiga di belakang, dan saya duduk di sebelah kiri dekat dengan jendela.
Dari bandara, taxi melaju menyusuri jalan dengan pembatas-pembatas jalan yang
penuh Bunga dengan dominasi warna kuning dan merah-orange, terlihat cantik dan
segar. Disisi-sisinya banyak terlihat tebing-tebing yang tinggi seperti sebuah
benteng.
Perjalanan
mulai berlanjut hingga ke jalan yang bergang-gang, gang berlantai kotak-kotak
kecil yang setebakku terbuat dari tanah liat (mungkin), berwarna coklat, lantai
dengan kotak-kotak kecil ini membantu para pejalan kaki dan kendaraan menyusuri
gang yang berbukit-bukit ini agar tidak begitu licin. Sisi-sisi gang dipenuhi
dengan pemukiman, rumah bertingkat yang tak begitu tinggi pikirku, dengan jalan
naik-turun seperti berbukit di setiap gang-gangnya. Dilihat baik-baik, ternyata
bukan hanya pemukiman, ada juga restaurant, banyak toko, travel dan hotel,
salah satunya hotel yang akan kami gunakan untuk menginap beberapa hari di
Istanbul. Ternyata pemukiman padat namun rapih dengan banyak gang-gang ini bertempat
di “kota Tua Istanbul”
“Waaaaaaaahhhh,
pantasan, rada bergaya klasik yaa” pikirku, gaya gue bangetlah ini, wkwk
Dokter
sengaja memilih hotel ini agar nuansa asli Istanbul terasa oleh kami, aku
senang dapat berada di hotel itu dan bersyukur dokter memilih tempat seperti itu.
Setelah check in dan menuju kamar
masing-masing dimana aku dan Ade sekamar. Aku ingin mandi dan istirahat saja,
perjalanan pesawat hingga transit membuat tidurku tidak nyaman dan maksimal,
apalagi keesokan harinya sudah harus kegiatan presentasi.
Hampir
malam, aku keluar sebentar, menengok kanan-kiri rumah, gang-gang sekitar,
melihat orang yang lalu-lalang dengan postur tubuh yang jauh lebih tinggi dan
besar dibandingkan tubuh mungil kecilku ini. Wajah Asia ini pasti membuat
mereka paham dan memaklumi perbedaan ukuran tubuh ini. Hmmmm. Dan ternyata,
udara di luar sangat dingin, karena kurangnya persiapan dan minimnya
pengalaman, aku dan Ade salah info tentang suhu di Istanbul, daebaak, dingin
ini hampir menusukku, padahal gaada salju, apalagi kalo musim salju yaa? Pikirku,
yasudahlah masuk lagi menghangatkan tubuh di balik selimut lagi.
![]() |
| Foto dari rooftop hotel |
Sudah
sampe di luar negeri nii Ndah, negeri entah beranta waktu itu, tapi entah
mengapa, ketersimaanku terhadap halhal baru yang kulihat tak bisa berdamai
dengan moodku, karena kurangnya persiapan informasi. Hanya ada 2 fokusku waktu
itu yaitu menghadiri presentasi dan membeli oleh-oleh untuk keluarga di rumah,
hanya itu, itu saja, kata orang mungkin ga nekoneko, tapi sebenarnya aku
melewatkan banyak kesempatan, walau sebenarnya ga dosa juga sii, huhu,
yasudahlaah.
Waktu
itu umurku 18 tahun (hmmmmmm) daaan sekarang umurku 23 tahun saat menuliskan
tentang ini, sepulang dari sana banyak yang sebenarnya ku sesalkan karena tidak
kulakukan saat berada di sana. Huh. Tapi tak boleh berkata “seandainya” tentang
apa yang sudah terjadi, bukan?. QadarAllah, Allah yang mentakdirkan. Bahkan,
karena hal tersebutlah, hatiku selalu bergumam dengan yakin, “aku akan balik
lagi ke sana, menyiapkan perjalanan dengan mantap dan melakukan apa-apa yang
kulewatkan saat berada di sana saat 2015 lalu” yeaaaah.
Cerita
soal presentasinya, bentar yaa, ini cerita random me dulu. Hal yang kulewatkan pertama
adalah persiapan matang, guys, pemberitahuan keberangkatan kami cukup mendadak,
ditambah dengan waktu mengurus passport yang harus dikejar, sehingga persiapan
lain-lain juga kurang maksimal. Salah satu yang penting adalah INFORMASI.
Karena baru pertama kali, haruslah informasi tentang tempat yang akan
dikunjungi sudah ada di luar kepala, tapi, nyatanya, banyak banget yang kurang,
bahkan suhu saat itu disana juga sampe salah didapatkan, jadinya kedinginan ala
Barbie Barbie deh disana. Dan yang tak kalah penting, yang menjadi alasan
terkuat mengapa aku harus balik lagi ke Turki adalah Informasi Sejarahnya…
huhu, biarkan ku menangiiiiisss, petcah rasanya hatiku. Tapi sekali lagi, tak
boleh ada seandainya. Tidak apa, aku akan balik lagi. Sejujurnya, saat
berangkat, aku tak begitu tahu soal Istanbul, entah sibuk apaaaaaa, ga nyambung
dengan cerita sejarah, hingga waktu search terkuras habis, ditambah double jet lag
karena baru pertama kali juga sampai di Jakarta.
Turki,
Istanbul, sejarah Islam termegah ada di sana, Dinasti Utsmani, tempat yang ditaklukkan oleh Muhammad Al-Fatih bersama para prajuritnya yang merupakan prajurit terbaik di bumi, tak ada tandingannya, merebut Konstatinopel yang pada waktu itu memiliki kekuatan pertahanan yang luar biasa. Tempat
peninggalan Turki Utsmani ada di sana, Istana Topkapi, Hagia Sophia, Blue Mosque, semuanya ada di sana, barang-barang pribadi milik
Rasulullah Salallahu’alaihiwasallam juga ada di sana. Sejarah kemegahan,
peradaban, kejayaan Islam ada di sana, sebagai saksi bahwa Islam pernah Berjaya
di sana, yang InsyaAllah akan kembali jaya di sana dan di seluruh dunia.
Aamiin. Aku akan balik lagi dan
menjajaki peninggalan bukti peradaban Islam di sana, see yaaa.
| Sebelum masuk istana Topkapi |
Padahal
ya, hotel kita cukup dekat dengan pusat Peradaban Islam ini (Hagia
Sophia, Istana Topkapi, Masjid biru) bisa dengan berjalan kaki menaiki beberapa gang dengan tanjakan dan pasar. Suara adzan sholat lima waktu dari masjid terdengar terdengar jelas dan sangat dekat dari hotel. Inilah yang patut ku syukuri.
Setiap hari kemana-mana, ke tempat presentasi, ke pasar, ke Selat Boshorus juga
selalu lewat masjid biru terlebih dahulu. Ya Allah.. Alhamdulillah. Kami kesana
kemari di daratan, jika tidak jalan kaki, gunakan Trem (seperti KRL commuter
line mini begitu, dalam kota, langsung turun di stasiun yang ada di sisi-sisi
jalan dengan bermodal kartu trem yang bisa mudah didapatkan di sepanjang
pertokoan dan jalan di kota tua)
![]() |
| Hotel nginap di Almina Hotel, jalan ke kanan depan udah dapat Blue Mosque😇 |
Ohiya,
saat berangkat jangan kira kemampuan bahasa inggris saya udah advance, kurang,
masih banyak kurang dan perlu banyak belajar. Kami berangkat ke tempat acara
dengan menggunakan kapal feri dulu. Menyeberangi selat Bosphorus. Salah satu
keunikan Turki adalah Negara dengan dua benua, ada bagian yang masuk ke Asia
dan ada juga yang masuk ke benua Eropa. Selat Bosphorus inilah yang memisahkan
Turki bagian Eropa dan Asia. Acara nya berlangsung dari tanggal 22-25 Oktober
2015, kami mulai hadir tanggal 23 Oktober di Halic Congress Center Istanbul.
Kota Tua berada di bagian Eropa Turki sedangkan Halic berada di bagian Asia lebih dekat dengan ibu kota dan pusat perbelanjaaanya, Taksim Square. Kami dengan menggunakan kapal feri dari kota tua menuju ke Halic square yang juga berada tepat di sisi laut sebagai pemandangan belakangnya. Selain itu, selama perjalanan disana, ada sesuatu yang tak kalah lucu, kucing-kucing di sana, padahal kayaknya kucing liar loh, lucu dan cemol semuaa, ada yang selalu datang setiap kali lagi nunggu giliran kapal feri, hehe. Sama yaa, gunakan kapal feri juga menggunakan kartu transportasi yang bisa dibeli dengan mudah dan diisi ulang.
Selama dan setelah urusan presentasi, aku berusaha untuk menyelesaikan misi ke dua ku, oleholeh. Sebenarnya yang jadi kendala juga, ternyata nukar uang rupiah dengan Lira (mata uang Tukri) disana saat itu cukup sulit, ga dapat malah, jadinya kami hanya gunakan uang pegangan Euro yang dikasih kampus lewat dr.Trev dengan lebih mengirit-ngirit. Uang jajan sendiri yang dibawa malah tersimpan rapi sampe balik ke Sorong. Ini catatan ke dua sii, sebelum bepergian, pastikan pegangan kita cukup untuk semua yang kita mau, tukar uang duluan atau siapkan ATM berlogi visa, mastercard dan lain sebagainya (tercatat benerlah di kepala ini), tak mau terulang lagi.
Kota Tua berada di bagian Eropa Turki sedangkan Halic berada di bagian Asia lebih dekat dengan ibu kota dan pusat perbelanjaaanya, Taksim Square. Kami dengan menggunakan kapal feri dari kota tua menuju ke Halic square yang juga berada tepat di sisi laut sebagai pemandangan belakangnya. Selain itu, selama perjalanan disana, ada sesuatu yang tak kalah lucu, kucing-kucing di sana, padahal kayaknya kucing liar loh, lucu dan cemol semuaa, ada yang selalu datang setiap kali lagi nunggu giliran kapal feri, hehe. Sama yaa, gunakan kapal feri juga menggunakan kartu transportasi yang bisa dibeli dengan mudah dan diisi ulang.
| #me di sisi Eropa selat Bosphorus |
Selama dan setelah urusan presentasi, aku berusaha untuk menyelesaikan misi ke dua ku, oleholeh. Sebenarnya yang jadi kendala juga, ternyata nukar uang rupiah dengan Lira (mata uang Tukri) disana saat itu cukup sulit, ga dapat malah, jadinya kami hanya gunakan uang pegangan Euro yang dikasih kampus lewat dr.Trev dengan lebih mengirit-ngirit. Uang jajan sendiri yang dibawa malah tersimpan rapi sampe balik ke Sorong. Ini catatan ke dua sii, sebelum bepergian, pastikan pegangan kita cukup untuk semua yang kita mau, tukar uang duluan atau siapkan ATM berlogi visa, mastercard dan lain sebagainya (tercatat benerlah di kepala ini), tak mau terulang lagi.
Soal
kenapa ga masuk ke museum-museum terkenal, yang sebenarnya menjadi cita-cita
hati terdalam, yang tak disadari begitu dekat untuk diraih saat itu, pengen
banget sholat di masjid biru, masjid dengan suara adzan yang menyentuh hati
selama disana, bahkan saat tertidurpun akan tetap terbangun dan mendengarnya
dengan tenang. Alhamdulillah. saat itu lagi masuk masa periode, pas di pesawat
menuju Doha waktu itu, makin ambyar pula moodku. Jadinya belum sempat sholat di
masjid penuh sejarah, masjid biru beserta museum-museum lainnya.
Kami
berbelanja cukup banyak, paling ga semua anggota keluarga dapat, dan, yang
ternyata lucu, yang selama hidup bapak masih sering diungkit dan diceritakan ke
teman-teman beliau adalah oleh-oleh yang kubawa pulang untuk bapak, selain
kubawa jam tangan, kubawa juga batu akik (warna hitam dan beberapa warna
lainya). Waktu itu lagi jaman trending batu akik dan
bapak saya juga suka buat cincin batu akik, jadi pas liat, hanya
kepikiran untuk beli buat bapak. Benar saja, langsung dibuat jadi cincin..
bapaak,
sa rinduuuuu :’’ Bismillah. Allahummaghfirlahu warhamhu, wa aafihi wa’fuanhu.
Menyusuri
Istanbul, yang tiap paginya tak pernah absen ku temui penjual roti bergerobak
merah di depan Hagia Sophia dengan roti-roti khas menggoda dalam berbagai bentuk dan ukuran. Nah ini
soal kulinernya, jadi indra pengecap saya itu memang sering milih-milih, bisa
dibilang Indonesia banget lah. Makanan di Turki itu, banyak rempah-rempahnya,
sampe sambalnya juga dari bubuk rempahnya saja, ada juga daging irisan
tipis-tipis yang sering menghiasi bagian depan tempat makan sebagai salah satu
daya tarik untuk orang kebanyakan, kecuali saya yang ga terlalu hobi daging
ukuran-ukuran besar, sampe yang khas disana “kebab” hanya dicoba Ade yang
memang doyan kebab dari dulu. Saya makan ala kadarnya saja, makan yang ingin
saya makan dan Alhamdulillah, kehalalan disana terjamin yaa, dominan Muslim juga
disana.
Istanbul
dengan kisahnya, foto-foto di setiap sudut tempat bersejarah, antik dan unik
sudah pasti kuambil semuanya. Selain foto, oleholeh yang kubawa untuk ku apa? notesbook kecil bergambar Blue Mosque dan payung, payung seperti
mangkuk bulatnya, anti-badai, bagian dalamnya berwarna hitam dengan gambar minimini putih seperti kelapkelip bintang, dan bagian luarnya berwarna putih keabuan, warna
simple bergaya menurutku. Apapun, intinya yang akan sering kupakai adalah barang
berharga, jadi belinya juga harus di tempat istimewa. Ada apa dengan payung
bagi saya? Nanti, di #randome story berikutnya, jika saya berkenan membuka cerita
saya di masa lalu, hehe.
Hingga
tiba waktunya balik, dengan maskapai yang sama dan rute perjalanan yang sama,
hanya berbeda teman duduk, bukan dengan Ade, melainkan dengan bule, entah lupa
dari mana, yang beberapa kali balik melihatku meneteskan air mata dan
menanyakan kenapa, bukan apaapa, karena film korea yang kutonton (sumpah sedih
banget geys tentang orangtua yang kena Alzemeir, kisahnya bareng istri dan
anak-anaknya, endingnya bikin mewek). Perjalanan belasan jam itu bukan hanya ku
habiskan dengan nonton-nonton mewek, pikiranku juga disibukkan dengan keharusan
membaca materi dan slide-slide kuliah, setelah ijin sekitar seminggu saat modul
tumbuh kembang, balik-balik langsung diskusi dan minus beberapa hari untuk
ujian sumatif). Sepanjang perjalanan Jakarta ke Sorong pun kuhabiskan dengan
menyusun LTM untuk dipresentasikan hari itu juga sehabis kuliah siang, semangaaat
Indah. Sekian cerita Istanbulnya yaa, sa berdoa dan mohon didoakan agar bisa
balik lagi, bareng orangtua, keluarga, teman, atau teman hidup (eh), hehe.
Bismillah for everything.
Indah
yang sedang merayakan cerita masa lalu,
21
Syawal 1441 H / 13 Juni 2020 M
**notes : kata teman saya Astri "no picture is hoax"





Comments
Post a Comment