Seri 2 #randome
~Antena
Ajaib Bapak
“Bapak tahu dari mana?”
Pertanyaan ini kerap kali muncul di
kepala saya. Mulai dari jaman sekolah hingga kuliah. Cerita-cerita lalu masih
selalu ada di ingatan, cerita ajaib tentang antena ajaib bapak untuk anak
perempuannya ini. Satu per satu kenangan itu terkenang.
Teringat saat masa perayaan kenaikan
kelas waktu SMP, dimana dirayakan di Tanjung Kasuari (siswa-siswi bersama
seluruh guru), waktu itu bapak menjabat sebagai kepala sekolah, harusnya bapak
juga bisa ikut.
Namun, saya yang sementara berdiri di
depan sekolah, berdiri dengan baju seragam olahraga serba hijau dari jilbab hingga
celananya, dengan tas belakang besar berisi pakaian ganti dan segala bekal yang
telah siap santap, menunggu bis kelas kami yang sedikit lagi akan tiba setelah
berjam-jam menunggu di dalam sekolah.
Tiba-tiba bapak datang dengan sepeda
motornya, berhenti tepat di depan saya, mengajakku naik untuk menemaninya ke kantor
depag (Departemen Agama). Senyum sumringah. Walau agaknya sayang sudah menunggu lama di depan sekolah, tapi ajakan bapak lebih saya sukai. Bapak tahu saja, anaknya lagi kurang berselera untuk
kegiatan outdoor kali ini. Ajakan yang tanpa ragu saya ikuti. Walau
sebenarnya, ingin kutunjukkan bahwa anaknya ini sudah bisa beradaptasi
di sekolah SMP yang suasananya sangat berbeda dari sekolah SD dulu. Bahkan
Bapak sendiri yang mengantarkanku ke sekolah. Tap entah mengapa, bapak tahu, anaknya sedang tidak ingin pergi beramai-ramai hari itu, tanpa kuberitahu.
Dan lagi, seakan antena ajaibnya juga selalu bisa
menemukanku, dimanapun berada.
Bapak menghafal hari dan jam jadwal les saya saat
SMA. Setiap hari apa, kapan jam pergi dan pulangnya. Kadang Bapak
sendiri yang mengingatkan untuk pergi les.
Sehingga tanpa kuhubungi, beliau
biasa sudah tiba di tempat les menjemput.
Sore itu, rasanya bapak tidak datang
menjemput (terkaan yang salah), saya memutuskan untuk pulang bersama
teman-teman, berjalan kaki ke terminal terlebih dahulu lalu menaiki angkot
bersama (sekali²lah pikirku). Saat perjalanan pulang, kami singgah di tempat penjual moleng
aneka rasa, tempatnya bertenda dan tertutup.
Saya rasa mustahil bapak bisa menemukanku, namun lagi, beliau datang dan berhenti tepat di depan tenda
penjual molen itu. Menjemput saya pulang. Masih kuingat jelas, beliau dengan baju kokoh putihnya dengan sarung lengkap, pakaian sholat beliau. Bapak bilang mendengar suara saya saat di
lampu merah, saat perjalanan pulangnya, karena tidak menemukan saya di tempat les.
Antena ajaib, pikirku, bagaimana bisa suara lalu-lalang mobil-motor, suara
cakap-cakap mas ojek pangkalan, bisa tertutupi dan mendengar suara anaknya ini. Letak lampu merah padahal cukup jauh dengan tempat penjual molen. Lagi, bapak menemukan anaknya, beserta kantong kresek putih berisi molen rasa keju dan coklat di tangannya.
*
Keinginan saya menjadi dokter, tak
pernah saya beritahu, tak pernah. Keinginan menjadi dokter hanya optimis saya lantangkan saat TK dulu. Selama masa SMA, mulai mengerti keadaan orangtua,
dan dimana tujuan kuliah mulai terpikirkan, saya tak pernah bilang kepada bapak,
keinginan terdalam ini. Saya hanya ingin mencari setiap lowongan beasiswa untuk
meringankan pembiayaan kuliah nanti. Karena menyadari kuliah dokter yang mahal, saya tak sampai hati menyampaikannya ke Bapak.
Saya hanya mengikuti tes di setiap
lowongan beasiswa full yang ada saat itu. Saya tak mungkin memasuki FK dengan
biaya mandiri di kampus-kampus ternama diluar, karena pasti mahal. Sebagai
cadangan, pilihan akhir, saya berencana mengambil jurusan bahasa Arab atau bahasa
Inggris di universitas di kotaku agar menjadi pemandu dan penerjemah nantinya,
jika tak berhasil mendapat beasiswa kedokteran. Saya tak pernah bilang ke Bapak.
Sembari tetap berusaha dengan harap harap cemas mendapatkan beasiswa itu.
Sementara itu~ saya pun tidak tahu keinginan
bapak, yang ingin anaknya menjadi Dokter namun juga tetap berada dekat
dengannya. Alhamdulillah. QadarAllah. Tahun kelulusanku bertepatan dengan tahun
pertama dibuka FKUNIPA, di Sorong, dan diampuh oleh salah satu FK terbaik di
Indonesia.
Bapak memberikan formulir pendaftaran FKUNIPA (waktu itu masih PSPD). Pasti mahal, pikirku. Penolakan. Saya katakan kepada bapak, agar
tidak perlu menghabiskan uang beliau, gunakan untuk hal lain. Akan kuusahakan masuk fakultas di jalur beasiswa, jika tidak berhasil, tidak mengapa bagi saya mengambil
jurusan lain.
Namun tidak baginya, bapak tetap menyodorkan formulir, mendorongku untuk mengisinya, hingga mengantar saya mengembalikan
formulirnya. Padahal saya cukup yakin akan lulus pada salah satu jalur beasiswa
yang saya ikuti.
Saya masih berharap, satu per satu terdengar
hasilnya, jalur beasiswa pertama tak terdapat namaku, padahal itu yang paling saya harapkan, beasiswa universitas negeri di dalam negeri, hingga kisah seleksi SBMPTN
yang Alhamdulillah tidak lulus juga. Masih ada satu jalur yang saya tunggu.
Di suatu pagi, berita lulus sampai di rumah kami, ibu guru langsung yang menemui bapak mengabarkan kabar baiknya. Alhamdulillah lulus di salah satu program beasiswa
pemda. Saya bersyukur dengan semua usaha panjang kala itu, mendapatkan hasil yang
diluar prediksi. Beasiswa full,
bahkan pikirku plus plus, luar negeri, walaupun harus jauh, tidak mengapa, ini beasiswa.
Namun... bagi bapak, beban batinnya jauh
lebih berat dibandingkan beban biaya. QadarAllah. Dengan berbagai
polemik dan pertimbangan, saya tetap masuk FKUNIPA.
Iya, bagaimana bisa saya pergi,
ketika ada binar harapan lain yang terpancar dari wajah bapak. Saya kembali kepada niat, untuk Ridho Allah, Ridho orangtua. Murka orangtua adalah
murka Allah Subhanahu wata’ala. Bagaimana bisa langkah kaki begitu ringan menuju
tempat yang justru memberatkan hati orangtua saya, Bapak. Tidak. Tak ada pilihan
yang buruk darinya. Saya yakin. Doa tulus dan kerja keras peluh-nya yang mengantarkan saya hingga sekarang. Bagi sata, adalah hal penting untuk mengukir
bahagianya.
“untuk bagian ini” ada keyakinan dalam
hati.
Saya berdoa agar diberikan keputusan
terbaik. Jika keputusan saya untuk tetap mengambil beasiswa itu adalah yang
terbaik, maka pasti Allah akan melapangkan hati bapak, namun jika keputusan
bapak yang terbaik, maka hati saya yang akan diluaskan menerima semuanya, diringankan
melangkah ke jalur itu.
Alhamdulillah. Pintu yang tertutup itu, membuka
satu per satu kesempatan yang berharga. Memberi makna dan hikmah yang kusyukuri
hingga saat ini. Saya bersyukur. Ada waktu akhir pekan
yang saya habiskan bersama keluarga, tiap moment Ramadhan yang tak pernah saya tinggalkan bersaama keluarga. Alhamdulillah. Moment-moment yang tak akan
terulang kembali. Saya bersyukur berkesempatan melewatinya bersama Bapak, Mama
dan keluarga. Alhamdulillah saya temukan murobbiyah saat kuliah akhir tahun,
tempat saya menambah ilmu agama.
Alhamdulillah, jaman pre-klinik yang
hampir 100% diajar langsung oleh dosen-dosen pengampuh dari FKUI, saya bersyukur
dengan subsidi yang besar dari pemerintah, biaya kuliahku tidak se-fantastis
kebanyakan anak FK di fakultas lain. Saya bersyukur, dengan jalan ini, banyak
kesempatan kebermanfataan yang dapat kulakukan untuk orang-orang sekitar baik kegiatan kesehatan maupun literasi.
Alhamdulillah. Allah adalah sebaik-sebaik Perencana.
Hingga kepergian Bapak, awal Januari
2020 lalu memberikanku hikmah yang luar biasa. Saya bersyukur bisa menghabiskan
banyak waktu bersama Bapak sembari tetap kuliah, tidak merasakan menjadi anak
rantauan dengan kerinduan yang luar biasa jika kupilih jalan belajar keluar negeri.
Karena setelah kepergiannya adalah awal perjalanan rindu yang menyesakkan. Baru sekitar 1,5 bulan pasca wisuda sarjana saya, Bapak pergi ke kehidupan yang lain. Saya banyak bergantung padanya. Banyak
sekali. Kepergiannya adalah dentuman paling keras, kesepian
paling dalam, dan kesedihan paling menyakitkan.
Manusia lemah. Sangat lemah. Jika bukan
karena kekuatan dari Allah Subhanahuwata’ala. Karena keyakinan akan adanya
hari kemudian, akhirat yang kekal. Allah menciptakan hidup dan mati, menguji hamba-Nya, siapa yang
paling baik amalnya, karena kita akan kembali kepada-Nya. Mempertanggungjawabkan
kehidupan dunia kita.
Ada perjuangan yang tersisa kini
untuk saya, perjuangan untuk menggapai dan memenuhi harapannya, agar saya menjadi
dokter. Serta perjuangan untuk dapat bertemu dengan Bapak dengan bahagia di hari
kemudian. Ku biarkan rindu ini bertumpuk,
tumpah-ruah. Biarkan rindu ini memekarkanku. Menjalankan kewajiban saya untuk
selalu mendoakan Bapak. Berjuang menjadi anak perempuannya yang sholehah agar
doa saya sampai padanya. Berjuang menjadi Dokter untuk memenuhi harapannya. Dan
kini,
“tinggalah saya bersama harapannya”

Walau banyak hal yang ingin saya lakukan
untuknya, semoga Allah mengganti dengan kesejahteraan yang jauh, jauh, jauh lebih
baik.
Walau tak sempat kubawa ia ke
tempat-tempat indah di bumi ini, semoga Allah menggantinya dengan memberikannya
tempat tinggal yang jauh, jauh, jauh lebih nyaman dan tenteram di sana.
Walau ingin saya berikan kebahagiaan hidup
untuknya, semoga Allah mengganti dengan memberikan limpahan kebahagiaan di
tempatnya saat ini hingga di akhirat nanti.
Aamiin Aamiin Ya Robbal Aalaamiin. Allahummaghfirlahu
warhamhu waafihi wa’fuanhu.
#loveBapak
dari anak perempuan kecilmu, Indahein
Comments
Post a Comment