Sehat Bangsaku-Sehat Negeriku
Pemberdayaan Masyarakat – Kampung Samusa
Membentuk Kader Posyandu
Kader posyandu, mungkin sudah
sering terdengar di kalangan masyarakat, namun tidak di kampung Samusa. Kampung
ini sudah dibuka sejak tahun 2016, namun baru mulai tersentuh kegiatan posyandu
Januari 2019 dan hingga saat ini belum terdapat kader di kampung Samusa. Saat
wilayah-wilayah lain sudah mulai fokus mengembangkan pelatihan bagi kader, di
kampung Samusa baru mulai merekrut kader. Inilah yang kami lakukan pada bulan
Mei ini. Terlihat raut wajah bahagia dan bersyukur dari wajah mama-mama di
kampung Samusa, mereka berantusias mengikuti pelatihan dan berharap terpilih
menjadi kader. Disamping itu dari kampung lain juga berminat untuk mengikuti
pelatihan, walaupun yang akan terpilih menjadi kader adalah dari kampung
Samusa.
Kampung Samusa merupakan kampung
di Distrik Sayosa sekitar 2 jam perjalanan dari Aimas Kabupaten Sorong, sampai
di Kampung induk Maladofok, kita harus melewati jalan masuk kampung Samusa
sejauh 7 KM dan jalannya berdebu.
Belum ada sekolah di kampung
Samusa, sekolah baru ada di kampung Maladofok, sehingga anak Samusa yang ingin
bersekolah harus menempuh jarak 7 KM, maka tak jarang mereka dan orangtua harus
menginap di kampung induk dan bahkan ada yang memberhentikan anaknya
bersekolah.
Menurut Dokter yang bertugas,
masalah kesehatan gizi kurang balita merupakan masalah yang terjadi di
mana-mana termasuk anak-anak di kampung Samusa disamping permasalahan PHBS dan
air bersih. Sehingga pada kegiatan pelatihan yang diadakan, diselipkan juga penyuluhan
oleh pihak puskesmas.
Masyarakat mengikuti pelatihan
dengan serius dan semangat, ada juga yang masih malu-malu mengutarakan
pendapatnya, tak mengapa, perlahan-lahan melatih diri menjadi lebih berani
mengubah kesehatan di kampung Samusa, kampung mereka tinggal dan mencari
nafkah.
Saat pelatihan, diungkapkan oleh
salah satu peserta tentang berbagai sumber makanana yang bisa didapatkan di
kampung Samusa, yaitu diantaranya sagu, umbi-umbian, sayu gedi, bayam, buah
pisang, ikan, daging rusa, dan sebagainya. Mendengar hal itu, terlihat bahwa
terdapat begitu banyak makanan beragam di kampung Samusa, sehingga poin pertama
pesan gizi seimbangan bisa didapatkan dari kampung, namun masalah gizi masih
terjadi. Di kampung Samusa belum terdapat kios atau tempat berjualan, mereka
harus ke kampung Induk untuk berbelanja serta pengelolaan makanan setiap
harinya cenderung sama, daging yang didapat diasar saja, sehingga salah satu
warga mengungkapkan bosan mengonsumsi daging sehingga lebih memilih menjualnya.
Sehingga bisa kita lihat juga bahwa pengelolaan bahan makanan sehari-hari
secara tidak langsung dapat mempengaruhi pemenuhan gizi masyarakat.
Di kampung samusa juga belum
terdapat listrik dan sinyal telepon, jadi memang lebih terpencil desa tempat
perekrutan dan pelatihan kader ini. Setelah merekrut kader, terlihat
binar mata yang penuh semangat dari mereka. Mereka sadar telah mengemban tugas
dan amanah baru untuk kampung mereka. Dan membuat kami juga tersadar, ada
banyak pr perbaikan untuk peningkatan status kesehatan Papua Barat. Keep
fighting.
![]() |
| Foto bersama setelah pelatihan penyuluhan gizi, bersama peserta pelatihan dan puskesmas Sayosa |
![]() |
| Suasana pelatihan pengukuran TB, BB balita dan pengisian KMS |
![]() |
| Bersama adik" kampung Samusa |




Comments
Post a Comment