Calon Dokter di Papua Barat

CERITA PERJUANGAN FKUNIPA

Avatarversion

Doa dari salah satu teman angkatan kita
yang sekarang sudah jadi pedagang emas beristri dokter (teman kita juga)

Alhamdulillah baru berkesempatan untuk menulis mengenai perkuliahan saya di Papua Barat. Alhamdulillah status mahasiswa kedokteran yang kupilih setelah SMA ini membawaku kepada cerita perjuangan yang luar biasa.

Tahun 2017 lalu, media banyak memberitakan soal perkuliahan FKUNIPA yang macet dan berlangsung hingga satu tahun lamanya. Sebagai mahasiswa yang mengalami hal tersebut tentu saja, jangan ditanyakan lagi, perasaanku bukan main sedih dan kecewanya. Tapi hingga saat ini aku masih bisa bertahan dan tersenyum bersama teman-teman seperjuangan di FKUNIPA yang lain.

Kali ini aku bukan bicara soal perasaan mahasiswa atau sebagainya, tapi tanggungjawab. Iyaps, pertama sebagai mahasiswa angkatan pertama di FKUNIPA yang saat itu memiliki dua adik angkatan, Optimis15 dan Super16, membuat jiwa kakak pertama begitu kuat dalam diri kami Semangat14 termasuk aku. sebagai ketua BEM yang menjabat pada saat itu, dimana tak ada yang bisa kami andalkan, saat itu, di kampus hanya ada mahasiswa, dan siapa lagi yang akan memperjuangkan hak belajar kami kalau bukan kami sendiri yang harus berjuang. Ini bukan hanya sekedar perasaan, tapi tanggungjawab bersama untuk diri sendiri, mahasiswa, fakultas dan Papua Barat.

Sebelum memulai cerita ini, kita mesti bersyukur, hingga saat ini diberikan kesempatan menimbah ilmu di perguruan tinggi, mengumpulkan bekal untuk menjadi dokter.

Oke, satu tahun macet kuliah bukanlah hal yang mudah untuk dijalankan apalagi melihat teman seangkatan yang lain tengah bahagia menerima perkuliahan di kampus (bukan iri loh ya, mohon dimaklumi, kalian tentu tahu perasaan kami, :)). Saat awal macet, dikarenakan masalah pendanaan, pihak fakultas berusaha mengisi segala kekosongan dosen dengan mendatangkan dokter lokal untuk mengajar sembari menunggu pihak universitas menyelesaikan masalah pendanaan dan kegiatan perkuliahan dadakan itu berlangsung selama 2 bulan namun tak juga mendapat titik terang. Akhirnya mahasiswa pun mulai bergerak, setelah sebelumnya telah mengirimkan surat ke semua pihak terkait. Surat tak kunjung dijawab, mulailah pergerakan pertama kami, mendatangi pihak universitas di Manokwari. Kami diterima?. tentu saja diterima oleh Rektor kami. Apa jawaban beliau?, "tanyakan pada yang pegang uang, DPRD, Pemprov PB". Jawaban yang menyakitkan harapan kami pada universitas dalam penyelesaian masalah kami, mengapa? kami meminta solusi, namun diberikan jawaban pencarian solusi ke pihak yang lain. Semakin terasa terasingkan. Oke singkat cerita, kami pergi menemui pihak DPRD PB, di DPR paling tidak kami diberikan solusi karena sebelumnya sudah pernah advokasi pada awal kedatangan saya ke Manokwari sambil menunggu teman mahasiswa lain yang datang menggunakan kapal laut.

*info : pendanaan FKUNIPA saat pendirian yaitu dana dari Pemerintah Kabupaten Sorong untuk operasional + dana hibah dari Provinsi (namanya dana hibah, belum ada dasar kuat sumber pembiayaan fkunipa) sehingga solusi dari DPR bersama pemprov agar membuat suatu aturan tertulis untuk adanya pendanaan rutin FKUNIPA entah buat MoU baru atau PKS baru. Mengapa dana hibah tahun itu tidak ada? ini yang masih simpangsiur, katanya karena pelaporan, katanya karena belum adanya proposal yang masuk, dsb.

Selanjutnya apa?
Pihak DPR mengadakan pertemuan dan mengundangan pihak universitas untuk menyelesaikan masalah fkunipa, namun Rektor tidak datang ke pertemuan yang diinisiasi tersebut. (saya tidak menyudutkan pihak manapun, saya hanya menceritakan moment2 perjuangan dulu, semua tentu ada dokumentasinya, BEM FKUNIPA 16-17 sebagai saksi, memiliki arsip kronologis beserta dokumentasi yang mendukung). 

Perjuangan kami tidak berhenti sebatas ibu kota provinsi Papua Barat, kami kembali ke Sorong mencoba menemui berbegai pihak lagi termasuk pemerintah Kabupaten Sorong, mencoba menyurat lagi dengan pembaharuan kronologis dan hasil pertemuan bersama pihak-pihak di Manokwari. Namuuuun... tidak ada jawaban pasti. Mahasiswa semakin sedih, namun harapan untuk kuliah tidak pernah luntur, semangat untuk terus berjuang tidaklah padam.

Kami menuju ke Ibu Kota Negara, Jakarta, singkat cerita, kami sudah kurang-lebih 3 kali bolak-balik Jakarta. Pergi pertama 40 mahasiswa + beberapa orangtua + DPR dan Pemerintah Kabupaten Sorong pergi menemui Menristek dikti yang berkahir hanya sebuah janji tanpa aksi. Pergi ke-2 ada 3 mahasiswa, advokasi bersama ISMKI, FKUI dan sebagainya. Pergi ke-3 kami ber-8 orang, hingga akhirnya melakukan aksi dramatis di depan menristek dikti yang ternyata bertepatan dengan hari rapat seluruh Rektor Indonesia di kantor Menristek Dikti (kami juga tidak tahu, tapi merupakan waktu yang pas bagi mahasiswa dan pastinya tidak pas bagi pihak kampus).

Kami mendapat bantuan dan dukungan dari mahasiswa kedokteran lain di Indonesia, melalui ISMKI, dan secara khusus juga oleh mahasiswa FKUI, kami tak jalan sendirian, Sekwil Wilayah 4 ISMKI juga sempat datang ke Jakarta menemui kami, memberi dukungan dan semangat. Terima kasih untuk semuanya.

Terima kasih untuk seluruh mahasiswa SEMOPER FKUNIPA, yang selalu saling mendukung yang semangat juangnya tidak pernah putus-putus.

Bukan hanya di Jakarta, mahasiswa yang ada di Sorong pun secara bersamaan melakukan aksi di Sorong, bersama aliansi mahasiswa lain di Sorong yang turut peduli dengan permasalahan FKUNIPA, tim Sorong juga bahkan lebih dramatis, harus berjalan jauh saat hujan deras ke kantor DPR, begitupun kami yang menyanyikan lagu tanah Papua di depan Kemenristek Dikti + skenario telah meninggalkan 2 pejabat penting sebagai tanda telah matinya tanggungjawab pendidikan di negeri ini.
Ada lagi satu moment, yang sangat membekas di ingatan, membuat selalu ingat ketika lewat lampu merah dan ada karton sukarela. sama seperti kami waktu itu, satu aksi yang cukup membuat gempar, sampai beritanya turut didengar di kementerian dikti Jakarta, aksi penggalangan dana di 2 lampu merah Kota dan Kabupaten Sorong untuk FKUNIPA sebagai salah satu bentuk teguran bagi pengambil kebijakan agar segera menyelesaikan masalah FKUNIPA.

Begitulah mahasiswa, rasa campur aduk dengan warna warni perjuangan..
Turut juga kami berterima kasih kepada semua media koran di Sorong dan Manokwari yang selama satu tahun itu tidak putus-putus menuliskan berita FKUNIPA di laman koran mereka, termasuk Kompas yang khusus mengundang kami di kantor Kompas Jakarta untuk menanyakan perihal permasalahan kami.

Banyak cerita suka-dukanya, namun satu yang kutahu, ketika kita berjalan bersama, semuanya akan terasa lebih ringan. 1 tahun macet memang adalah cerita sedih, kami pernah mengangis bersama, tapi juga tertawa bersama, bahkan saat ini ketika diputarkan video perjuangan kami dulu, masih terasa perasaan waktu itu. Ketika diminta untuk mengingat kembali, banyak moment ceria dan membahagiakan bersama. Saat kami salah masuk kantor Komnas HAM, tapi ke Perlindungan anak dan wanita, saat tak mendapat tempat di kapal, dan rusuh sendiri di teras kapal karena hujan-hujanan, saat setelah atau sebelum demo, maskeran dulu di Manokwari, bermain bersama dekan pertama di pasir putih Manokwari, saat di Jakarta harus tinggal pisah-pisah, dan masih banyak cerita lainnya.

Dan yang juga tak kalah penting, saya bisa bertemu dan mengenal begitu banyak orang, mengetahui sisi lain kehidupan, dan membuatku semakin lebih dewasa. Saya yang jarang sekali mendapat ijin kemana-mana, waktu itu, bapak dan mama benar-benar telah melepaskanku, mengepakkan sayapku sendiri, menghadapi masalahku sendiri, walau tak jarang, aku masih menangis ketika telponan. Tak mengapa, aku sudah dewasa sekarang, ma, pa, karena doa, kasih sayang, dan dukungan mama, bapak, kakak dan adik semuanya. LoveYouAll.


*To Be Continued (Kisah akhirnya gimana?) (dan saat ini?) :) wait

Comments

Popular Posts