Cerita dari Kampung - Selipan kisah jalan-jalan di Misool




Terlalu sayang bila tidak dituliskan.
Terlalu banyak pengalaman dan kisah menarik yang tak ingin sekedar ku ingat dalam ingatan, tapi ku tuangkan dalam tulisan ala kadarku ini, hehe. Santai yaaa. Haha.

Saya adalah mahasiswa kedokteran, saat ini semester 6. Anak kampung yang lahir dan besar di kota, kota Sorong, Papua Barat, tidak sebesar dan seramai kota-kota di Jawa kok. Tahu kan. Hehe.
Saya berasal dari kampung Fafanlap, Misool Selatan, Raja Ampat. Ku tak ingin sombong, tapi kampung halamanku disebut-sebut sebagai tempat yang paling indah dan bagus di Raja Ampat. Misool yang indah, seperti nama ku, Indah💁.

Oke, itu sekilas tentang diriku.

Sebagai orang yang berasal dari tempat yang indah, wajar saja aku dihujani banyak permintaan oleh orang-orang terdekatku untuk membawa mereka jalan-jalan ke Kampung ku. Dan sebenarnya sudah beberapa kali sebelumnya aku membawa kerabat, teman, dan kenalanku. Tapi perjalanan kali ini benar-benar berkesan di ingatanku. Rasa campur aduk setiap kali mengingatnya. Iya. Kali ini, saat bulan puasa Ramadhan, saat musim ombak aku harus membawa dua dokter yang bekerja di kampusku untuk jalan-jalan di kampungku. Sebut saja dr.Abas dan dr.Putra (nama disamarkan, takut ketahuan😶).

Saat ini awal bulan Juni 2018, bulan dimulainya musim selatan yang akan terus berlanjut tak berhenti hingga puncaknya di bulan Agustus. Musim selatan sangat familiar terdengar di telinga masyarakat Misool, namun sulit untuk dijalani. Musim selatan adalah musim dimana lagi ombak-ombaknya, ombak bisa mencapai 3-5 meter di Misool dan.. tahu saja, di Misool transportasi utamanya adalah perahu, kapal, pokoknya hampir semuanya via laut, jadi musim ombak tentu saja sangat mempengaruhi segala kegiatan di sana. Termasuk juga mempengaruhi perjalanan liburan kami kali ini. Hoho, sebenarnya ini bukan liburan menurutku, ini adalah rencana jalan dadakan, dan benar saja rencana mendadak memang selalu berhasil terealisasikan. Walaupun di awal musim ombak, aku harus bersedia mengantar para dokterkarena masa kontrak dr.Abas yang sudah selesai dan harus segera balik ke tempatnya.

Seperti yang kukatakan, rencana mendadak memang sering terealisasikan. Aku baru beberapa hari dihubungi oleh dr.Abas untuk mengantarnya dan dr.Putra (sebenarnya ada satu lagi teman dr.Abas yang ingin ikut, tapi sayang sekali tak jadi). DAN… kami pun berangkat.

Sebagai anak perempuan kesayangan bapak ane, aku sedikit kesulitan meyakinkan bapak dan mama untuk berangkat ke kampung di musim ombak ini dan terlebih saat pertengahan bulan puasa ini. Tapi tawar-manawar berhasil dimenangkan olehku, tahu lah apa yang membuat bapak kasih ijin, iyap, ada dua dokter yang kubawa, hehe, tidak enak hati juga kalau ku tolak sedangkan dr.Abas harus segera balik. Tapi segala sesuatu harus ada syaratnya, seperti sebelum-sebelumnya aku tak pernah berangkat seorang diri harus selalu ditemani para penjaga, ma’siblings, oke langsung saja ku bawa kaka Phia sebagai guide (kakakku yang sudah handal dan berpengalaman😗) dan kaka Suk untuk menemani ku dan dokter.

Singkat cerita, kami berangkat hari Jumat siang, dan berencana balik hari selasa depan. Namun rencana memang tak selalu berjalan mulus. Ada-ada saja yang menghampiri. Niatnya untuk membawa dokter mengelilingi spot-spot di Misool, tapi ada saja selipan kisah karena gelar mereka sebagai dokter, pekerjaan kak Phia yang sebagai perawat, dan aku mahasiswa kedokteran, entahlah apakah aku diperhitungkan atau tidak, hehe, yasudahlah, yang penting pengalamannya. Wkwk.

Setelah tiba, mulai keesokannya, rencana jalan-jalan dimulai. Start, action😎. Sabtu, minggu, senin. Tiga hari ini digunakan untuk mengunjungi berbagai tempat wisata di Misool, walaupun ada beberapa tempat yang belum bisa dikunjungi karena cuaca lautan yang sedang kurang bersahabat, karena lagi musim selatan. Yah begitulah, ada beberapa tempat yang terlalu berisiko ombak besar untuk dilalui dan tidak semua pembawa motor perahu bersedia dan ingin mengantar, jadi kesimpulannya kami hanya cari aman, yang mana-mana saja yang penting aman dan tetap jalan-jalan.

Jalan-jalan kami berjalan dengan baik dan menyenangkan. Tapi entahlah, hampir semua ekspresi wajahku di hp kak Phia seperti kurang bersahabat😖, mungkin karena lagi puasa, hehe. Yasudah, yang penting dr.Abas dan dr.Putra telah mengambil gambar dan pose yang mereka inginkan selama perjalanan kami ini. Oke, aku tak ingin bercerita banyak mengenai jalan-jalannya, karena bukan itu fokusku saat ini. Tapi tak apalah, kuperlihatkan satu foto hasil jalan-jalannya.


Ini satu-satunya foto bersama, di Karamat,
nanti cerita detail tempatnya saya ceritakan di lain kesempatan di blog sebelah
(Hak cipta foto dari dr.Abas)

*Perjalanan menarik, selipan cerita, kisah tak terlupakan pun dimulai.

Kami balik ke Sorong hari selasa pagi, menaiki kapal yang sama saat kami datang, kapal ekspress berukuran kecil. Namun tak sama seperti saat datang ke Misool, cuaca hari ini terlihat berbeda. lautan lebih merontah riak.

Kami naik dari kampung Fafanlap, dan sebelum ke Sorong kapal harus singgah terlebih dahulu di dua kampung, Yellu dan Folley. Perjalanan dari Fafanlap ke Yellu bisa dikatakan aman-aman saja, namun perjalanan dari Yellu ke Folley yang tidak begitu lama itu cukup membuat jantung berdetak lebih cepat, membuatku melupakan mabuk lautku dan hanya khawatir pada keselamatan perjalananku kali ini. Aku duduk di bangku tengah hampir di belakang, sendiri dengan 3 bangku kosong disebelahku yang harusnya diisi kak Phia dan kak Suk yang lebih memilih melihat keadaan lautan di teras kapal, sedang di belakangku ada dr.Abas dan dr.Putra yang sepertinya juga sudah mulai waspada (walaupun kata dr.Abas, ia masih belum panik, yang membuat panik hanya ibu-ibu yang sejak awal ombak selalu berteriak). Banyak penumpang berteriak saat gelombang demi gelombang mulai menghantam kapal dan cukup membuat kapal miring hampir 90 derajat beberapa kali dan membuat semua orang mulai memegang life jacket (termasuk aku, anak pulau yang tak tahu berenang). Entah apa yang akan terjadi, aku hanya siap sedia menerima keadaan selanjutnya, sebenarnya belum siap, ku tak bisa berenang😬, berharap pada life jacket yang sedang ku pegang ini agar bisa membantu saat keadaan semakin memburuk. Segala pikiran tak nyaman mulai menyapa khayalan, ah sudahlah, ku buyarkan terkaan yang menakutkan itu dan fokus berdoa, agar Allaah SWT senantiasa melindungi kami.

Aku bukan hanya khawatir pada keadaan kapal saat ini, tapi juga anak kecil berusia kurang dari 1 tahun, perempuan, Zahra namanya, ia bersama ibu dan neneknya duduk di depanku, dan sesekali ayahnya datang untuk membantu ibunya membujuk Zahra yang sejak naik kapal rewel dan muntah-muntah. Ternyata Zahra sudah diare sejak dua hari yang lalu. Jelas sekali saat ini Zahra mulai tampak lemas, matanya tampak sedikit masuk, dan karena muntah, orangtuanya tidak memberikan ia susu lagi.. Saat melihatnya, aku tak menyangka bahwa kami akan bertemu lagi dengannya, di kisah selanjutnya.


*
Alhamdulillah setelah melewati berbagai terpaan ombak, kapal tiba di Folley, Kapten hanya melabuhkan kapalnya di depan kampung, tak sandar pada dermaga yang telah rubuh karena tersenggol kapal besar saat ombak beberapa waktu lalu (wajar saja, soalnya dermaga Folley masih terbuat dari kayu).

Aku naik ke atas, melihat keadaan bersama kak Phia dan kak Suk. Banyak perahu yang datang menjemput penumpang dan mengantarkan penumpang. Kulihat raut wajah agak ragu dari penumpang yang akan naik ke kapal, apalagi para wanita dan anak-anak. Bagaimana tak ragu, ombak tampak menyapu takaruan lautan siang ini dengan terpaan angin yang semakin kencang. Akupun  merasa ragu setelah ombak yang mengguncang kapal tadi dan khawatir untuk melanjutkan perjalanan ke Sorong. Ditambah lagi dengan keadaan yang sepertinya semakin memburuk, ombak gelombang yang diharapkan agar meredah malah semakin menjadi. Terpaan angin semakin kencang, gelombang yang semakin besar bergantian menyapu kapal yang berlabu ini. Kapten kapal sepertinya sangat berani (malah menurutku terlalu berani), kapal tetap saja ingin lanjut walaupun cuaca semakin buruk, bagaimana dengan para penumpang di bawah yang sudah terkocok-kocok isi perutnya dan dicampur panik karena kapal yang terombang-ambing. Bagaimana dengan anak-anak dan ibunya, para wanita, keluarga yang dinantikan keluarganya di rumah. Ah sudahlah, aku tak ingin berkomentar. -_-

Kami masih saja duduk di atas, hingga perahu terakhir yang masih bersandar di pinggir kapal menaikkan barang bawaan yang menurutku terlalu banyak untuk kapal sekecil ini, bahkan jalan masukpun diletakkan barang berkarung-karung dan membuat orang sulit lewat. Banyaknya muatan yang memperparah rasa khawatir di dada serta gelombang yang semakin besar, mendorong keputusan kak Phia dan kami semua untuk TURUN, tidak melanjutkan perjalanan ke Sorong. Kami tahu betul risikonya walaupun 250 ribu harga tiket harus kuikhlaskan (sebenarnya dokter yang harus ikhlaskan sii, karena dokter yang bayarkan, hehe,#,#). Kak Suk tetap bersih keras melanjutkan perjalanan ke Sorong walaupun sudah diminta turun oleh kak Phia, tapi memang, hidup adalah pilihan dan kak Suk sudah dewasa dan berhak menentukan nasibnya sendiri (cielah).Hadeh-_-

Saat mengambil barang-barang di kursi, kak Phia mengajak adik Zahra dan orangtuanya untuk turun dan akan memasang cairan (maksudnya infus) saat di kampung Folley, dan cukup melegahkan, mereka ikut turun bersama kami. ahh., aku tak bisa membayangkan bagaimana keadaan adik Zahra jika tetap melanjutkan perjalanan dengan keadaan kapal saat ini. Sebelum kami ternyata sudah banyak para penumpang yang turun, sekitar 40 an orang yang turun tak ingin melanjutkan keberangkatan ke Sorong.

Adik Zahra, aku dan dr.Abas turun duluan di perahu terakhir ini, sedang kak Phia, dr.Putra dan nenek adik Zahra masih menunggu di atas kapal, menunggu perahu yang mengantarku dan dr.Abas ini untuk balik lagi menjemput mereka karena perahu yang membawa kami sudah penuh penumpang dan barang bawaan.

Perahu kami pun melaju menuju kampung Folley melewati lautan yang masih saja bergelombang tak berhenti.

Aku sudah cukup was-was di atas perahu ini, di sebelahku duduk dr.Abas, aku tak sempat melihat raut wajahnya, khawatir kah atau entahlah. Belum sempat ku lihat raut wajahnya, aku sudah dikagetkan dengan pemandangan kapal yang tampak semakin menjauh, bukan hanya perahu kami yang menjauh, tapi kapal itu juga melaju menjauh menuju Sorong.

Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa😲, hatiku berteriak, tentu saja aku kaget, panik, tak tahu ingin berkata atau berbuat apa. Dari kejauhan pintu dek bawah tempat kami turun tadi juga sudah tertutup.

Aku mencoba meminta ke bapak pembawa perahu agar balik mengejar kapal itu, membawa kakak dan dr.Putra ke Folley, namun bapak pembawa perahu tidak bisa memastikan, apabila kapal sudah terlampau jauh keluar, dia pun tak berani dengan keadaan gelombang yang sedang naik-naiknya ini.
Oh TUHAN. Sungguh, aku, tak tahu harus berbuat apa saat ini, aku mencoba mengingat segala sesuatu tentang Folley yang terakhir kudatangi saat masih duduk di bangku SMP dan mulai memikirkan hal-hal yang perlu kulakukan selanjutnya.🙍

Tapi ALLAAH SWT. Mendatangkan bantuan-NYA. Aku melihat kapal mulai berbalik mendekati kampung kembali. Aku dan dr.Abas buru-buru meminta bapak pembawa perahu untuk menjemput kakakku dan lainnya di kapal.

Oke, setelah menurunkan kami dan barang-barang kami, bapak pembawa perahu bersama satu bapak lainnya kembali ke kapal menjemput kak Phia, dr.Putra dan nenek adik Zahra. Sedang dr.Abas bersama ayah adik Zahra pergi melihat keadaan adik Zahra. Dan aku, duduk di dermaga, menjaga barang-barang, dibawa matahari nan panas, tapi tetap kuelakkan, aku ingin menunggu kak Phia, dr.Putra dan nenek adik Zahra, karena akan lebih membara perasaanku kalau sampai kak Phia dan dr.Putra harus terpisah denganku dan dr.Abas (huh).

Oh iya, penasaran kan, kenapa kapalnya bisa sampai balik lagi. Awalnya ku kira karena cuaca yang semakin buruk sehingga kapal kembali ke kampung Folley dan akan menunggu hingga cuaca membaik. Namun ternyata bukan hanya itu saja, ada pemicu yang membuat kapal tak melanjutkan perjalanan. Dr.Putra yang tampak pendiam tak marah-marah, hari itu, harus berbica hingga terdengar bergetar suaranya di telinga, iya, dr.Putra naik menghadap kapten dan mulai marah (eh) bukan marah sii, mungkin menyampaikan pendapatnya dengan nada yang sedikit lebih keras dan tegas (bahasa halusnya). Iya tentu saja sedikit lebih bersih kukuh untuk turun, adik Zahra sudah di bawah ke kampung, sedangkan perawat dan dokter masih di kapal, bukan hanya itu nenek Zahra juga mulai bersuara bahkan menangis karena ingin turun dan bertemu cucunya, kak Phia tentu saja masih memikirkan nasibku, adiknya yang sebenarnya sudah dewasa ini🙎, apabila berpisah di Folley. Singkat cerita, segala tekanan dari dr.Putra, kak Phia, nenek Zahra dan beberapa penumpang lain yang juga mendesak kapten dan para ABK kapal, akhirnya, kapalpun berbalik arah, menurunkan penumpang yang ingin turun, dan memutuskan untuk sandar kembali beberapa jam hingga cuaca membaik.

Tak ada perasaan yang lebih melegahkan saat itu, saat ku dengar suara kak Phia yang memanggilku karena panas-panasan di dermaga, suara dr.Putra yang menanyakan keberadaan dr.Abas. Hah, aku bisa bernapas legah, mereka bersama kami saat ini di kampung Folley.😃😁

Saat berjalan menuju daratan kampung, dr.Abas juga mulai muncul bersama ayah Zahra menuju ke arah kami. kak Phia yang mengetahui seluk beluk jalan kampung Folley membawa jalan menuju rumah salah satu kerabat kami yang tinggal di Folley. Tiba di rumah kerabat kami, kami meletakkan barang bawaan kami yang lumayan banyak, aku menggendong tas pakaianku yang lumayan besar dan berat. Setelah meletakkan barang bawaan, kami berempat mengunjungi adik Zahra yang berada di rumah salah satu perawat wanita yang bertugas di Folley. Di sana, adik Zahra masih saja menangis, dokter melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik serta memberikan resep untuk adik Zahra. Kak Phia bersama perawat lainnya memasang cairan yang di coba di tangan dan kaki adik Zahra, namun setelah dua kali percobaan tak juga berhasil. Karena keinginan makan adik Zahra masih bagus, dokter memberikan edukasi pada orangtua adik Zahra agar Zahra diberikan makanan dan susu secara kontinu dan akan dicoba lagi pemasangan cairan setelah beberapa jam.

Kami balik ke kediaman kerabatku, masak makanan ala kadarnya untuk makan siang dokter. Dan Istirahat sejenak. Penumpang lain turun sebentar di Folley untuk mencari makan termasuk kak Suk, dan informasi yang beredar kapal akan berangkat pukul 03 atau 04 sore. Sebenarnya masih ada harapan di hatiku untuk berangkat apabila keadaan sudah membaik, namun baru pukul 02 siang kapal sudah melaju menuju Sorong. Penumpang lain yang sengaja turun seperti kami hanya menatap kapal itu, berharap ia akan sampai dengan selamat di Sorong, ada juga penumpang lain yang ketinggalan kapal karena kapal yang keluar lebih cepat dari yang dikatakan, mereka hanya menatap lemas kapal yang sudah berangkat membawa serta barang bawaan mereka.

Setelah melihat kapal yang sudah melaju menuju Sorong, kami harus menerima kenyataan bahwa di kampung Folley tak ada jaringan, tak ada sinyal. Aku bingung bagaimana harus mengabari ke keluarga bahwa aku dan kak Phia tidak ikut kapal menuju ke Sorong. Aku yakin keluarga di kampung dan di Sorong sudah khawatir karena sesuai jadwal, kapal harusnya tiba di Sorong pukul 02 atau 03 sore. Namun tak ada yang tahu posisi kapal saat ini dan nasib kami yang turun di kampung yang tidak ada jaringan ini. Bukan hanya aku, dokter juga gelisah karena tidak bisa berkabar ke orangtuanya, terlebih dr.Abas, yang sudah mengabari orangtuanya bahwa kapal akan tiba di Sorong siang ini, tapi malah turun di kampung yang jaringannya sudah hilang selama 6 bulan ini. Kami mencoba mendapatkan jaringan dengan pergi ke salah satu perusahaan mutiara dekat kampung Folley, butuh sekitar 5-10 menit untuk sampai ke sana dengan menggunakan perahu. Namun sayang sekali tidak ada seorang pun yang bisa mengantarkan kami dalam situasi ombak saat itu. Semua pembawa perahu handal sedang tidak berada di kampung. Sekali lagi kami harus menerima kenyataan dan mencoba berpikiran positif, berharap keluarga di rumah mendengar suara hati kami. dr.Abas masih saja gelisah, ikan bakar yang ia buat bersama dr.Putra tidak begitu lahap ia santap, ia baru bisa tidur pukul 00.30 WIT. Ah, aku tak bisa berbuat apa-apa saat ini. Dr.Putra tidak sebegitu dicari seperti dr.Abas, jadi ia tampak lebih santai bahkan dibandingkan aku dan kak Phia.


Usai makan, para dokter dan kak Phia berkunjung ke rumah pasien dengan niat ingin membawa salah satu pasien untuk tinggal di rumah kerabatku karena diare adik Zahra mulai menular ke adik yang lain. Tentu saja setelah mendapat izin dari tuan rumah. Hehe. Namun, karena kemalaman, adik dan keluarganya sudah tidur duluan. Dokter dan kak Phia balik ke rumah tanpa adiknya, namun membawa kabar yang cukup baik. Iya, kami mendapat tumpangan untuk berangkat besok pagi ke kampung Fafanlap pukul 06.00 pagi dan bersiap untuk balik ke Sorong hari kamisnya dengan kapal yang jauh lebih besar dari kapal sebelumnya. Yah, lumayan paling tidak di Fafanlap ada sinyal untuk bisa berkabar ke keluarga.

Kapal kecil ekspress yang kami turun sebelumnya baru tiba di Sorong pukul 20.00 malam, jadi tentu saja berita aku dan kak Phia turun di Folley sudah sampai ke keluargaku tanpa perlu ku telepon lagi karena pasti sudah diceritakan dan didramatisir oleh kak Suk. Sedang dr.Abas dan dr.Putra masih perlu sinyal untuk mengabari keluarga mereka.

*
Rabu pagi, 06.00 WIT, perahu yang kami tumpangi mulai menuju ke kampung Fafanlap, keadaan lautan masih saja ber-ombak, gelombangnya cukup tinggi dan tampiasan ombaknya cukup membuat kami basah.

Sesampainya di Fafanlap, tentu saja, dr.Abas orang pertama yang langsung menghubungi kedua orangtuanya. Ada lebih dari 5 inbox yang sudah masuk ke hpnya, bahkan petinggi fakultas kami juga mencari dr.Abas dan mencoba menghubungi dr.Putra. yah begitulah, pemandangan saat itu. Dr.Abas sedang teleponan di belakang, sedang aku dan dr.Putra di meja makan. Tak seperti dr.Abas pesan pertama dr.Putra adalah dari nomor baru “walaupun kau jauh di sana aku disini…… No sex dan sara” dan diikuti oleh pesan berikutnya yang lebih masuk akal namun bukan tentang dirinya tetapi pesan dari nomor baru yang menanyakan dr.Abas. Ho’oh. Aku hanya senyam-senyum dan turut memahami apa yang dr.Putra dan dr.Abas rasakan.
Tebak saja, dokter Abas adalah anak bungsu, jadi lebih dijaga. Hehe.

Oke, hari ini kami beristirahat di kampung, hingga sore hari, kami sedikit mendaki di gunung belakang kampung Fafanlap, hanya sekedar mencari buah yang bisa diambil. Sore itu, kami berhasil membawa pulang buah Pala dan sedikit buah Tombe-Tombe.



*Kamis…
Kamis pagi, kapal besar sudah sandar di kampung Fafanlap. Hari ini disebut hari pasar, karena saat kapal sandar, banyak jualan yang ditawarkan di pelabuhan mulai dari sayur, buah, dan sebagainya.


Yang menjadi fokusku saat ini adalah naik kapal, menemukan tempat yang nyaman dan tidur agar tak mabuk di atas kapal. Setelah berpamitan dengan semua keluarga, kami naik kapal yang lebih besar ini, tanpa adanya keraguan dan tanpa rasa was-was seperti pada kapal sebelumnya. Jujur saja, cuaca hari ini lebih baik dibandingkan selasa kemarin yang membuat kami harus turun di kampung Folley. Yasudahlah, move-on Indah, sudah berlalu itu. Sekarang bersiap pulang. Oke.

Kapal mulai lepas tali dan menjauh dari kampung Fafanlap menuju ke Yellu, dari Yellu kapal mulai menuju ke Sorong. Baru keluar dari Yellu saja, kapal mulai bergoyang, mengocok isi perut, memutar kepala, ah aku pusing, sepertinya aku mulai mabuk. Kuputuskan masuk dan merebahkan badan di atas tempat tidur. Oh iya, kami memutuskan untuk menyewa kamar yang di dalamnya ada dua tempat tidur bertingkat, lumayan cukup untuk kami berempat.

Kak Phia juga ikut beristirahat, sedang dr.Abas dan dr.Putra memilih beristirahat di luar hingga akhirnya merekapun masuk. Kami beristirahat sejenak.

Saat tengah melabuhkan diri di dunia mimpi diatas tempat tidur, tiba-tiba terdengar suara yang samar-samar, hanya sisa-sisa suara yang ku dengar “Bocor, bocor”
Oh Tuhan, pikirku, apa lagi ini. Bocor kha?

Sontak membuat kami berempat membuka mata, aku membuka pintu, kak Phia mulai meraih gagang pintu dan keluar melihat keadaan. Sesaat setelahnya, terdengar pengumuman dari ABK kapal bahwa terdapat kapal nelayan yang bocor dan kapal yang kami naiki berniat menolongnya. Oh. Aku legah. Sejenak ku lihat kapal yang bocor itu, masih terombang ambing, dan masih lumayan jauh. Ah aku masih pusing, aku masuk lagi, mencoba tidur.

Dr.Putra memilih keluar melihat keadaan di luar

Oke, karena sedang membawa kapal nelayan yang pecah di belakang, kecepatan kapal dikurangi dan tentu saja semakin memperpanjang lama perjalanan kami, dan ayunan kapal semakin terasa, benar-benar mengocok perut. Asssh, aku ingin muntah.-_-.


*
Sesaat beristirahat, terdengar suara ketukan dari pintu kamar “Ibu suster, ibu suster”
Aku tahu mereka sedang memanggil kak Phia, aku membuka pintu. Ada bapak Bernard di depan pintu, bapak KP3 laut di Misool. Pak Bernard meminta kak Phia untuk melihat kondisi ibu hamil trimester akhir yang sudah merasa kesakitan di dek kapal paling bawah.
“wah… pikirku, jangan sampe melahirkan”

Kak Phia buru-buru ke bawah melihat kondisi ibu tersebut bersama dr.Putra.

Dan aku, masih mual-mual. Dr.Abas juga sedang beristirahat, sepertinya dia lelah.

Hingga beberapa saat, saat kapal tak begitu berayun karena mulai memasuki pulau-pulau menuju Sorong, perutku mulai bersahabat. Dr.Abas dengan gelarnya sebagai dokter, tentu saja pergi dan melihat keadaan ibu hamil tersebut. Dan aku, karena penasaran, aku juga mulai pergi melihat keadaan ibu hamil di dek kapal paling bawah.


Ini dia nii, suasana tempat tidur ekonomi di KM.Fajar (tempat tidur ibu hamilnya di baris tengah)

Dan cerita berkesan lainnya di kapal pun dimulai..

Ibu hamil yang merasa kesakitan ini berangkat tanpa melapor sebelumnya ke petugas kesehatan dan tidak membawa buku pink pemeriksaan kandungannya. Menurut anamnesis pasien, kemarin sudah keluar bercak dan cairan seperti air. Kemungkinan ketubannya sudah pecah. Namun siapa yang berani melakukan ‘pemeriksaan dalam’ saat tidak terdapat handscoon. Aku saja tak berani. Untuk menjaga segala kemungkinan, tim medis dadakan mulai menyiapkan segala keperluan untuk kelahiran bayi. Tempat tidur pasien di bawah sudah ditutup rapat dengan kain ala kadarnya, namun partus set, alat suntik, obat lainnya, mana bisa di ala kadarkan. Setelah berbicara dengan kapten kapal, dalam sejarah, kapal akan sandar di Seget (salah satu distrik di Sorong), dan mencari kelengkapan kelahiran di puskesmasnya. Sesaat sebelum kapal sandar di Seget, seorang wanita datang membawa alat partus set lengkap dengan oksitosin, ternyata wanita tersebut adalah seorang bidan. Karena terlalu senang dan legah, akhirnya langsung dikatakan kepada kapten agar tidak perlu sandar di Seget, karena alat sudah lengkap. Kapalpun kembali ke rutenya menuju Sorong. Namun setelah diperiksa kelengkapan alatnya, ternyata masih kurang satu perlengkapan yang tidak kalah penting, malah sangat penting. Handscoon. Belum ada handscoon. Ahhhhhh. Ingin teriak rasanya, kapal sudah mundur, dan rasanya kurang mungkin untuk meminta kapten kembali lagi (ini bukan kapal pribadi kami, hiks). Aku dan dr.Abas kembali ke atas, meminta ABK untuk mengumumkan kepada seluruh penumpang yang sekiranya sedang membawa handscoon agar dapat memberikannya kepada petugas medis demi persalinan.

Menurutku, tim medis dadakan sudah lengkap. Ada dua dokter keren, satu bidan cantik, dua perawat kece, dan aku satu-satunya mahasiswa kedokteran, hehe, walaupun sebenarnya aku tak bantu banyak, namun mata dan pikiranku selalu siap dan terkesan melihat segala kejadian hari ini.

Dan wah, ide pengumuman dari dr.Abas membuahkan hasil, ada seorang ABK yang datang membawa sarung tangan. Iya sarung tangan. Tapi sarung tangan dapur. Dalam keadaan demikian, apapun yang memungkinkan harus disyukuri. Handscoon ala kadar mulai di sterilisasi dan direndam di air hangat. Sarung tangan dapur ini juga cukup panjang hingga siku.

Tempat tidur ekonomi di dek paling bawah yang dikelilingi oleh penumpang lain disulap menjadi ruang bersalin, segala alat disiapkan. Ibunya sedang mencari posisi ternyamannya, dan mencoba berdamai dengan kontraksi yang dari tadi ia rasakan.

Selama perjalanan, dokter dan tim medis lainnya selalu melakukan observasi, menengok, memperhatikan tanda-tanda melahirkan pada pasien. Oh iya dedek bayi merupakan anak ke-5, ini yang membuat dokter lebih was-was selama di perjalanan karena lama kontraksi akan lebih cepat ke arah persalinan (karena sudah ada pengalaman2 dari persalinan sebelumnya, hehe, kurang lebih seperti itu penjelasannya).


*Singkat cerita, lampu-lampu Sorong mulai terlihat, semakin dekat, semakin terang, dan akhirnya kapal mulai sandar di pelabuhan rakyat Sorong.

Kami mulai mengemasi barang bawaan. Bidan masih tetap mengawasi ibu hamil tersebut. Saat penumpang lain sibuk untuk segera turun dari kapal, kami tim medis dadakan malah sibuk menuruni tangga, seakan berlomba berlari, secepatnya untuk tiba ke tempat tidur ibu hamil. Bagaimana tidak, dedek bayinya sudah mulai keluar melewati jalan lahir. Waaaaaahhhhh😱. Jangan panik😐. Bagaimana tak panik?, partus set sudah dibawa oleh bidan pemiliknya yang sudah turun duluan setelah kapal sampai di Sorong. Hadeuh. 

Ibu masih mengedan, dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, dengan sisa-sisa alat seadanya. Persalinan pun dilakukan😮🙏. Perlahan, dengan bantuan arahan dari dokter, bidan Gaya dan kak Phia mulai membantu ibu melahirkan bayinya. Bidan gaya mengenakan sarung tangan dapur tadi dan terlihat kebesaran di tangannya yang kecil. Mengedan. Pelan. Perlahan. Mulai Keluar, dan iyaps suara tangis bayipun terdengar, mengisi setiap sudut dek paling bawah kapal ini. 

Alhamdulillah. Akhirnya adiknya lahir, di atas kapal, di atas tempat tidur ekonomi, dengan menggunakan alat seadanya, bukan seadanya, malah bisa dikatakan kurang. Tidak terdapat klem, gunting untuk memotong dan menjepit tali pusar, alkohol sebagai antiseptik juga tidak ada. Tali pusar dedek bayi tidak dipotong hanya diikat dengan kain kassa. cairan infus, dispo, dan kain kassa juga didapatkan dari perlengkapan infus adik Zahra yang diberikan oleh Paman Ali, perawat Dabatan yang mengantar adik Zahra ke Sorong bersama dengan kapal yang hari ini kami naiki. Dan mengganti alkohol dengan menggunakan pencuci tangan milikku ‘Antis’ (nggak promosi looh yaa, hehe).

Persalinan bukan hanya sekedar melahirkan dedek bayinya, namun juga melahirkan plasentanya, dan melihat keadaan bayinya. Setelah dedek bayi lahir, diikuti oleh plasenta yang selanjutnya belum diputuskan, plasenta dimasukkan ke dalam kantung plastik kresek berwarna merah putih dan dibawah bersama dedeknya menuju rumah sakit untuk selanjutnya diputuskan di sana. Keadaan dedek bayinya?, tenang saja, dr.Putra merawatnya dengan sangat baik, ia tampak sehat, berjenis kelamin perempuan. Adik bayi dibungkus dengan kain berwarna kuning, ia lahir hari ini, 07 Juni 2018,  pukul 20.20 WIT dengan berat sekitar 3 kilo lebih.

Bukan hanya keluarga dan kami yang bahagia. Kapten dan ABK kapal juga turut senang menyambut kelahiran dedek malam itu di atas kapal. Tak seperti bayi lainnya, tempat pertama yang ia jajaki bukan di RS tapi di atas kapal ini, KM Fajar Baru. Kapten datang kepada nenek dan ibu dedek bayi, dan mengatakan pimpinan besar KM Fajar akan memberikan nama kepada dedek bayinya. Nenek dan ibu bayi dengan senang hati menerimanya, dan diberilah nama “Indah Ramadhani”. Indah seperti nama perusahaan kapalnya dan Ramadhani karena lahir pada bulan Ramadhan. Tapi namanya sama yaa seperti namaku, Ah ku baper. Hihi.

Setelah memastikan keadaan ibu dan bayi baik-baik saja, setelah membersihkan tempat persalinan dadakan, ibu dan dedek bayinya dibawah ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lanjut. Sekian, kami hanya mengantarkannya hingga di depan angkot yang akan membawa mereka menuju RS, tim medis yang ikut mendampingi hingga ke RS yaitu bidan Gaya. Sebenarnya aku tak turut turun mengantar dedek bayi hingga ke mobil, karena aku harus menjaga barang-barang kami di dek bawah yang sejak tadi ditinggalkan karena fokus untuk persalinan di kapal. 

Malam itu, tak seperti malam-malam sebelumnya di kapal, ada yang lain, ada yang lahir, si dedek bayi mungil yang membuat kisah tak terlupakan hari itu, dokter dan tim medis lainnya seperti artis dan pahlawan yang patut untuk dikenang, mereka difoto oleh orang-orang yang turut takjub melihat perjuangan mereka. Akupun takjub. Wah……. 👶


Foto penutup akhir cerita, semoga adiknya menjadi anak yang sholehah yaa💛, Aamiin
Tebak sendiri yaa orang-orangnya, yang jelas tak ada ane di foto itu😁



*,*
Sekian cerita pengalamanku dari kampung kali ini, ada banyak pelajaran yang kuambil mulai dari ilmu kedokterannya, etika, profesionalisme, kemanusiaan dan masih banyak lagi. Pengalaman ini benar membuat perasaanku campur aduk, mulai dari khawatir, cemas, bangga, deg-deg-an, takut, sedih, kecewa, dan bahagia. Namun percayalah, dari warna-warni rasa itu yang dominan adalah bahagianya. Hehe.

Bye🙋
Wassalamualaikum wr wb.

Kota Sorong,
Rabu, 14 Juni 2018 (H-1 Idul Fitri 1439 H)

Comments

Popular Posts