Cerita dari Kampung - Selipan kisah jalan-jalan di Misool
Terlalu sayang bila tidak dituliskan.
Terlalu banyak pengalaman dan kisah menarik yang tak ingin
sekedar ku ingat dalam ingatan, tapi ku tuangkan dalam tulisan ala kadarku ini,
hehe. Santai yaaa. Haha.
Saya adalah mahasiswa kedokteran, saat ini semester 6. Anak kampung
yang lahir dan besar di kota, kota Sorong, Papua Barat, tidak sebesar dan
seramai kota-kota di Jawa kok. Tahu kan. Hehe.
Saya berasal dari kampung Fafanlap, Misool Selatan, Raja
Ampat. Ku tak ingin sombong, tapi kampung halamanku disebut-sebut sebagai
tempat yang paling indah dan bagus di Raja Ampat. Misool yang indah, seperti
nama ku, Indah💁.
Oke, itu sekilas tentang diriku.
Sebagai orang yang berasal dari tempat yang indah, wajar saja
aku dihujani banyak permintaan oleh orang-orang terdekatku untuk membawa mereka
jalan-jalan ke Kampung ku. Dan sebenarnya sudah beberapa kali sebelumnya aku
membawa kerabat, teman, dan kenalanku. Tapi perjalanan kali ini benar-benar
berkesan di ingatanku. Rasa campur aduk setiap kali mengingatnya. Iya. Kali
ini, saat bulan puasa Ramadhan, saat musim ombak aku harus membawa dua dokter
yang bekerja di kampusku untuk jalan-jalan di kampungku. Sebut saja dr.Abas dan
dr.Putra (nama disamarkan, takut ketahuan😶).
Saat ini awal bulan Juni 2018, bulan dimulainya musim selatan
yang akan terus berlanjut tak berhenti hingga puncaknya di bulan Agustus. Musim
selatan sangat familiar terdengar di telinga masyarakat Misool, namun sulit
untuk dijalani. Musim selatan adalah musim dimana lagi ombak-ombaknya, ombak
bisa mencapai 3-5 meter di Misool dan.. tahu saja, di Misool transportasi
utamanya adalah perahu, kapal, pokoknya hampir semuanya via laut, jadi musim
ombak tentu saja sangat mempengaruhi segala kegiatan di sana. Termasuk juga
mempengaruhi perjalanan liburan kami kali ini. Hoho, sebenarnya ini bukan liburan
menurutku, ini adalah rencana jalan dadakan, dan benar saja rencana mendadak
memang selalu berhasil terealisasikan. Walaupun di awal musim ombak, aku
harus bersedia mengantar para dokter, karena masa kontrak dr.Abas yang sudah selesai dan harus
segera balik ke tempatnya.
Seperti yang kukatakan, rencana mendadak memang sering terealisasikan.
Aku baru beberapa hari dihubungi oleh dr.Abas untuk mengantarnya dan dr.Putra
(sebenarnya ada satu lagi teman dr.Abas yang ingin ikut, tapi sayang sekali tak
jadi). DAN… kami pun berangkat.
Sebagai anak perempuan kesayangan bapak ane, aku sedikit
kesulitan meyakinkan bapak dan mama untuk berangkat ke kampung di musim ombak ini
dan terlebih saat pertengahan bulan puasa ini. Tapi tawar-manawar berhasil
dimenangkan olehku, tahu lah apa yang membuat bapak kasih ijin, iyap, ada dua
dokter yang kubawa, hehe, tidak enak hati juga kalau ku tolak sedangkan dr.Abas
harus segera balik. Tapi segala sesuatu harus ada syaratnya, seperti
sebelum-sebelumnya aku tak pernah berangkat seorang diri harus selalu ditemani
para penjaga, ma’siblings, oke langsung saja ku bawa kaka Phia sebagai guide (kakakku yang sudah handal dan berpengalaman😗) dan kaka Suk
untuk menemani ku dan dokter.
Singkat cerita, kami berangkat hari Jumat siang, dan
berencana balik hari selasa depan. Namun rencana memang tak selalu berjalan
mulus. Ada-ada saja yang menghampiri. Niatnya untuk membawa dokter mengelilingi
spot-spot di Misool, tapi ada saja selipan kisah karena gelar mereka sebagai
dokter, pekerjaan kak Phia yang sebagai perawat, dan aku mahasiswa kedokteran,
entahlah apakah aku diperhitungkan atau tidak, hehe, yasudahlah, yang
penting pengalamannya. Wkwk.
Setelah tiba, mulai keesokannya, rencana jalan-jalan dimulai.
Start, action😎. Sabtu, minggu, senin.
Tiga hari ini digunakan untuk mengunjungi berbagai tempat wisata di Misool,
walaupun ada beberapa tempat yang belum bisa dikunjungi karena cuaca lautan
yang sedang kurang bersahabat, karena lagi musim selatan. Yah begitulah, ada
beberapa tempat yang terlalu berisiko ombak besar untuk dilalui dan tidak semua
pembawa motor perahu bersedia dan ingin mengantar, jadi kesimpulannya kami
hanya cari aman, yang mana-mana saja yang penting aman dan tetap jalan-jalan.
Jalan-jalan kami berjalan dengan baik dan menyenangkan. Tapi entahlah, hampir semua ekspresi wajahku di hp kak Phia seperti
kurang bersahabat😖, mungkin karena lagi puasa, hehe. Yasudah, yang penting dr.Abas dan dr.Putra telah mengambil gambar dan pose yang mereka
inginkan selama perjalanan kami ini. Oke, aku tak ingin bercerita banyak
mengenai jalan-jalannya, karena bukan itu fokusku saat ini. Tapi tak apalah, kuperlihatkan satu foto hasil jalan-jalannya.
*Perjalanan menarik, selipan cerita, kisah tak terlupakan pun dimulai.
| Ini satu-satunya foto bersama, di Karamat, nanti cerita detail tempatnya saya ceritakan di lain kesempatan di blog sebelah (Hak cipta foto dari dr.Abas) |
*Perjalanan menarik, selipan cerita, kisah tak terlupakan pun dimulai.
Kami balik ke Sorong hari selasa pagi, menaiki kapal yang
sama saat kami datang, kapal ekspress berukuran kecil. Namun tak sama seperti
saat datang ke Misool, cuaca hari ini terlihat berbeda. lautan lebih merontah riak.
Kami naik dari kampung Fafanlap, dan sebelum ke Sorong kapal
harus singgah terlebih dahulu di dua kampung,
Yellu dan Folley. Perjalanan dari Fafanlap ke Yellu bisa dikatakan aman-aman
saja, namun perjalanan dari Yellu ke Folley yang tidak begitu lama itu cukup
membuat jantung berdetak lebih cepat, membuatku melupakan mabuk lautku dan
hanya khawatir pada keselamatan perjalananku kali ini. Aku duduk di bangku
tengah hampir di belakang, sendiri dengan 3 bangku kosong disebelahku yang
harusnya diisi kak Phia dan kak Suk yang lebih memilih melihat keadaan lautan
di teras kapal, sedang di belakangku ada dr.Abas dan dr.Putra yang sepertinya
juga sudah mulai waspada (walaupun kata dr.Abas, ia masih belum panik, yang
membuat panik hanya ibu-ibu yang sejak awal ombak selalu berteriak). Banyak
penumpang berteriak saat gelombang demi gelombang mulai menghantam kapal dan cukup
membuat kapal miring hampir 90 derajat beberapa kali dan membuat semua orang
mulai memegang life jacket (termasuk
aku, anak pulau yang tak tahu berenang). Entah apa yang akan terjadi, aku hanya
siap sedia menerima keadaan selanjutnya, sebenarnya belum siap, ku tak bisa berenang😬, berharap pada life
jacket yang sedang ku pegang ini agar bisa membantu saat keadaan semakin
memburuk. Segala pikiran tak nyaman mulai menyapa khayalan, ah sudahlah, ku buyarkan
terkaan yang menakutkan itu dan fokus berdoa, agar Allaah SWT senantiasa
melindungi kami.
Aku bukan hanya khawatir pada keadaan kapal saat ini, tapi
juga anak kecil berusia kurang dari 1 tahun, perempuan, Zahra namanya, ia
bersama ibu dan neneknya duduk di depanku, dan sesekali ayahnya datang untuk membantu
ibunya membujuk Zahra yang sejak naik kapal rewel dan muntah-muntah. Ternyata Zahra
sudah diare sejak dua hari yang lalu. Jelas sekali saat ini Zahra mulai tampak
lemas, matanya tampak sedikit masuk, dan karena muntah, orangtuanya tidak
memberikan ia susu lagi.. Saat melihatnya, aku tak menyangka bahwa kami akan
bertemu lagi dengannya, di kisah selanjutnya.
*
Alhamdulillah setelah melewati berbagai terpaan ombak, kapal tiba di Folley, Kapten hanya melabuhkan
kapalnya di depan kampung, tak sandar pada dermaga yang telah rubuh karena tersenggol
kapal besar saat ombak beberapa waktu lalu (wajar saja, soalnya dermaga Folley
masih terbuat dari kayu).
Aku naik ke atas, melihat keadaan bersama kak Phia dan kak
Suk. Banyak perahu yang datang menjemput penumpang dan mengantarkan penumpang.
Kulihat raut wajah agak ragu dari penumpang yang akan naik ke kapal, apalagi
para wanita dan anak-anak. Bagaimana tak ragu, ombak tampak menyapu takaruan
lautan siang ini dengan terpaan angin yang semakin kencang. Akupun merasa ragu setelah ombak yang mengguncang
kapal tadi dan khawatir untuk melanjutkan perjalanan ke Sorong. Ditambah lagi
dengan keadaan yang sepertinya semakin memburuk, ombak gelombang yang
diharapkan agar meredah malah semakin menjadi. Terpaan angin semakin
kencang, gelombang yang semakin besar bergantian menyapu kapal yang berlabu
ini. Kapten kapal sepertinya sangat berani (malah menurutku terlalu berani), kapal
tetap saja ingin lanjut walaupun cuaca semakin buruk, bagaimana dengan para
penumpang di bawah yang sudah terkocok-kocok isi perutnya dan dicampur panik karena
kapal yang terombang-ambing. Bagaimana dengan anak-anak dan ibunya, para
wanita, keluarga yang dinantikan keluarganya di rumah. Ah sudahlah, aku tak
ingin berkomentar. -_-
Kami masih saja duduk di atas, hingga perahu terakhir yang
masih bersandar di pinggir kapal menaikkan barang bawaan yang menurutku terlalu
banyak untuk kapal sekecil ini, bahkan jalan masukpun diletakkan barang
berkarung-karung dan membuat orang sulit lewat. Banyaknya muatan yang memperparah
rasa khawatir di dada serta gelombang yang semakin besar, mendorong keputusan
kak Phia dan kami semua untuk TURUN, tidak melanjutkan perjalanan ke Sorong.
Kami tahu betul risikonya walaupun 250 ribu harga tiket harus kuikhlaskan
(sebenarnya dokter yang harus ikhlaskan sii, karena dokter yang bayarkan, hehe,#,#).
Kak Suk tetap bersih keras melanjutkan perjalanan ke Sorong walaupun sudah
diminta turun oleh kak Phia, tapi memang, hidup adalah pilihan dan kak Suk
sudah dewasa dan berhak menentukan nasibnya sendiri (cielah).Hadeh-_-
Saat mengambil barang-barang di kursi, kak Phia mengajak adik
Zahra dan orangtuanya untuk turun dan akan memasang cairan (maksudnya infus)
saat di kampung Folley, dan cukup melegahkan, mereka ikut turun bersama kami.
ahh., aku tak bisa membayangkan bagaimana keadaan adik Zahra jika tetap
melanjutkan perjalanan dengan keadaan kapal saat ini. Sebelum kami ternyata
sudah banyak para penumpang yang turun, sekitar 40 an orang yang turun tak
ingin melanjutkan keberangkatan ke Sorong.
Adik Zahra, aku dan dr.Abas turun duluan di perahu terakhir
ini, sedang kak Phia, dr.Putra dan nenek adik Zahra masih menunggu di atas
kapal, menunggu perahu yang mengantarku dan dr.Abas ini untuk balik lagi
menjemput mereka karena perahu yang membawa kami sudah penuh penumpang dan
barang bawaan.
Perahu kami pun melaju menuju kampung Folley melewati lautan
yang masih saja bergelombang tak berhenti.
Aku sudah cukup was-was di atas perahu ini, di sebelahku
duduk dr.Abas, aku tak sempat melihat raut wajahnya, khawatir kah atau
entahlah. Belum sempat ku lihat raut wajahnya, aku sudah dikagetkan dengan
pemandangan kapal yang tampak semakin menjauh, bukan hanya perahu kami yang
menjauh, tapi kapal itu juga melaju menjauh menuju Sorong.
Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa😲, hatiku berteriak, tentu saja aku
kaget, panik, tak tahu ingin berkata atau berbuat apa. Dari kejauhan pintu dek
bawah tempat kami turun tadi juga sudah tertutup.
Aku mencoba meminta ke bapak pembawa perahu agar balik
mengejar kapal itu, membawa kakak dan dr.Putra ke Folley, namun bapak pembawa
perahu tidak bisa memastikan, apabila kapal sudah terlampau jauh keluar, dia
pun tak berani dengan keadaan gelombang yang sedang naik-naiknya ini.
Oh TUHAN. Sungguh, aku, tak tahu harus berbuat apa saat ini,
aku mencoba mengingat segala sesuatu tentang Folley yang terakhir kudatangi
saat masih duduk di bangku SMP dan mulai memikirkan hal-hal yang perlu
kulakukan selanjutnya.🙍
Tapi ALLAAH SWT. Mendatangkan bantuan-NYA. Aku melihat kapal
mulai berbalik mendekati kampung kembali. Aku dan dr.Abas buru-buru meminta
bapak pembawa perahu untuk menjemput kakakku dan lainnya di kapal.
Oke, setelah menurunkan kami dan barang-barang kami, bapak
pembawa perahu bersama satu bapak lainnya kembali ke kapal menjemput kak Phia,
dr.Putra dan nenek adik Zahra. Sedang dr.Abas bersama ayah adik Zahra pergi
melihat keadaan adik Zahra. Dan aku, duduk di dermaga, menjaga barang-barang,
dibawa matahari nan panas, tapi tetap kuelakkan, aku ingin menunggu kak Phia, dr.Putra
dan nenek adik Zahra, karena akan lebih membara perasaanku kalau sampai kak
Phia dan dr.Putra harus terpisah denganku dan dr.Abas (huh).
Oh iya, penasaran kan, kenapa kapalnya bisa sampai balik
lagi. Awalnya ku kira karena cuaca yang semakin buruk sehingga kapal kembali ke
kampung Folley dan akan menunggu hingga cuaca membaik. Namun ternyata bukan
hanya itu saja, ada pemicu yang membuat kapal tak melanjutkan perjalanan.
Dr.Putra yang tampak pendiam tak marah-marah, hari itu, harus berbica hingga
terdengar bergetar suaranya di telinga, iya, dr.Putra naik menghadap kapten dan
mulai marah (eh) bukan marah sii, mungkin menyampaikan pendapatnya dengan nada
yang sedikit lebih keras dan tegas (bahasa halusnya). Iya tentu saja sedikit
lebih bersih kukuh untuk turun, adik Zahra sudah di bawah ke kampung, sedangkan
perawat dan dokter masih di kapal, bukan hanya itu nenek Zahra juga mulai bersuara
bahkan menangis karena ingin turun dan bertemu cucunya, kak Phia tentu saja
masih memikirkan nasibku, adiknya yang sebenarnya sudah dewasa ini🙎, apabila berpisah
di Folley. Singkat cerita, segala tekanan dari dr.Putra, kak Phia, nenek Zahra
dan beberapa penumpang lain yang juga mendesak kapten dan para ABK kapal,
akhirnya, kapalpun berbalik arah, menurunkan penumpang yang ingin turun, dan
memutuskan untuk sandar kembali beberapa jam hingga cuaca membaik.
Tak ada perasaan yang lebih melegahkan saat itu, saat ku
dengar suara kak Phia yang memanggilku karena panas-panasan di dermaga, suara
dr.Putra yang menanyakan keberadaan dr.Abas. Hah, aku bisa bernapas legah, mereka
bersama kami saat ini di kampung Folley.😃😁
Saat berjalan menuju daratan kampung, dr.Abas juga mulai
muncul bersama ayah Zahra menuju ke arah kami. kak Phia yang mengetahui seluk
beluk jalan kampung Folley membawa jalan menuju rumah salah satu kerabat kami
yang tinggal di Folley. Tiba di rumah kerabat kami, kami meletakkan barang
bawaan kami yang lumayan banyak, aku menggendong tas pakaianku yang lumayan
besar dan berat. Setelah meletakkan barang bawaan, kami berempat mengunjungi
adik Zahra yang berada di rumah salah satu perawat wanita yang bertugas di
Folley. Di sana, adik Zahra masih saja menangis, dokter melakukan anamnesis dan
pemeriksaan fisik serta memberikan resep untuk adik Zahra. Kak Phia bersama
perawat lainnya memasang cairan yang di coba di tangan dan kaki adik Zahra,
namun setelah dua kali percobaan tak juga berhasil. Karena keinginan makan adik
Zahra masih bagus, dokter memberikan edukasi pada orangtua adik Zahra agar Zahra
diberikan makanan dan susu secara kontinu dan akan dicoba lagi pemasangan
cairan setelah beberapa jam.
Kami balik ke kediaman kerabatku, masak makanan ala kadarnya
untuk makan siang dokter. Dan Istirahat sejenak. Penumpang lain turun sebentar
di Folley untuk mencari makan termasuk kak Suk, dan informasi yang beredar
kapal akan berangkat pukul 03 atau 04 sore. Sebenarnya masih ada harapan di
hatiku untuk berangkat apabila keadaan sudah membaik, namun baru pukul 02 siang
kapal sudah melaju menuju Sorong. Penumpang lain yang sengaja turun seperti
kami hanya menatap kapal itu, berharap ia akan sampai dengan selamat di Sorong,
ada juga penumpang lain yang ketinggalan kapal karena kapal yang keluar lebih
cepat dari yang dikatakan, mereka hanya menatap lemas kapal yang sudah
berangkat membawa serta barang bawaan mereka.
Setelah melihat kapal yang sudah melaju menuju Sorong, kami
harus menerima kenyataan bahwa di kampung Folley tak ada jaringan, tak ada
sinyal. Aku bingung bagaimana harus mengabari ke keluarga bahwa aku dan kak
Phia tidak ikut kapal menuju ke Sorong. Aku yakin keluarga di kampung dan di
Sorong sudah khawatir karena sesuai jadwal, kapal harusnya tiba di Sorong pukul
02 atau 03 sore. Namun tak ada yang tahu posisi kapal saat ini dan nasib kami
yang turun di kampung yang tidak ada jaringan ini. Bukan hanya aku, dokter juga
gelisah karena tidak bisa berkabar ke orangtuanya, terlebih dr.Abas, yang sudah
mengabari orangtuanya bahwa kapal akan tiba di Sorong siang ini, tapi malah
turun di kampung yang jaringannya sudah hilang selama 6 bulan ini. Kami mencoba
mendapatkan jaringan dengan pergi ke salah satu perusahaan mutiara dekat
kampung Folley, butuh sekitar 5-10 menit untuk sampai ke sana dengan
menggunakan perahu. Namun sayang sekali tidak ada seorang pun yang bisa
mengantarkan kami dalam situasi ombak saat itu. Semua pembawa perahu handal
sedang tidak berada di kampung. Sekali lagi kami harus menerima kenyataan dan
mencoba berpikiran positif, berharap keluarga di rumah mendengar suara hati
kami. dr.Abas masih saja gelisah, ikan bakar yang ia buat bersama dr.Putra
tidak begitu lahap ia santap, ia baru bisa tidur pukul 00.30 WIT. Ah, aku tak
bisa berbuat apa-apa saat ini. Dr.Putra tidak sebegitu dicari seperti dr.Abas,
jadi ia tampak lebih santai bahkan dibandingkan aku dan kak Phia.
Usai makan, para dokter dan kak Phia berkunjung ke rumah
pasien dengan niat ingin membawa salah satu pasien untuk tinggal di rumah
kerabatku karena diare adik Zahra mulai menular ke adik yang lain. Tentu saja
setelah mendapat izin dari tuan rumah. Hehe. Namun, karena kemalaman, adik dan
keluarganya sudah tidur duluan. Dokter dan kak Phia balik ke rumah tanpa adiknya,
namun membawa kabar yang cukup baik. Iya, kami mendapat tumpangan untuk
berangkat besok pagi ke kampung Fafanlap pukul 06.00 pagi dan bersiap untuk
balik ke Sorong hari kamisnya dengan kapal yang jauh lebih besar dari kapal
sebelumnya. Yah, lumayan paling tidak di Fafanlap ada sinyal untuk bisa
berkabar ke keluarga.
Kapal kecil ekspress yang kami turun sebelumnya baru tiba di
Sorong pukul 20.00 malam, jadi tentu saja berita aku dan kak Phia turun di
Folley sudah sampai ke keluargaku tanpa perlu ku telepon lagi karena pasti
sudah diceritakan dan didramatisir oleh kak Suk. Sedang dr.Abas dan dr.Putra
masih perlu sinyal untuk mengabari keluarga mereka.
*
Rabu pagi, 06.00 WIT, perahu yang kami tumpangi mulai menuju ke kampung Fafanlap, keadaan lautan masih saja ber-ombak, gelombangnya cukup tinggi dan tampiasan ombaknya cukup membuat kami basah.
Sesampainya di Fafanlap, tentu saja, dr.Abas orang pertama
yang langsung menghubungi kedua orangtuanya. Ada lebih dari 5 inbox yang sudah
masuk ke hpnya, bahkan petinggi fakultas kami juga mencari dr.Abas dan mencoba
menghubungi dr.Putra. yah begitulah, pemandangan saat itu. Dr.Abas sedang
teleponan di belakang, sedang aku dan dr.Putra di meja makan. Tak seperti
dr.Abas pesan pertama dr.Putra adalah dari nomor baru “walaupun kau jauh di
sana aku disini…… No sex dan sara” dan diikuti oleh pesan berikutnya yang lebih
masuk akal namun bukan tentang dirinya tetapi pesan dari nomor baru yang menanyakan
dr.Abas. Ho’oh. Aku hanya senyam-senyum dan turut memahami apa yang dr.Putra
dan dr.Abas rasakan.
Tebak saja, dokter Abas adalah anak bungsu, jadi lebih
dijaga. Hehe.
Oke, hari ini kami beristirahat di kampung, hingga sore hari,
kami sedikit mendaki di gunung belakang kampung Fafanlap, hanya sekedar mencari
buah yang bisa diambil. Sore itu, kami berhasil membawa pulang buah Pala dan
sedikit buah Tombe-Tombe.
*Kamis…
Kamis pagi, kapal besar sudah sandar di kampung Fafanlap.
Hari ini disebut hari pasar, karena saat kapal sandar, banyak jualan yang
ditawarkan di pelabuhan mulai dari sayur, buah, dan sebagainya.
Yang menjadi fokusku saat ini adalah naik kapal, menemukan tempat yang nyaman dan tidur agar tak mabuk di atas kapal. Setelah berpamitan dengan semua keluarga, kami naik kapal yang lebih besar ini, tanpa adanya keraguan dan tanpa rasa was-was seperti pada kapal sebelumnya. Jujur saja, cuaca hari ini lebih baik dibandingkan selasa kemarin yang membuat kami harus turun di kampung Folley. Yasudahlah, move-on Indah, sudah berlalu itu. Sekarang bersiap pulang. Oke.
Kapal mulai lepas tali dan menjauh dari kampung Fafanlap
menuju ke Yellu, dari Yellu kapal mulai menuju ke Sorong. Baru keluar dari
Yellu saja, kapal mulai bergoyang, mengocok isi perut, memutar kepala, ah aku
pusing, sepertinya aku mulai mabuk. Kuputuskan masuk dan merebahkan badan di
atas tempat tidur. Oh iya, kami memutuskan untuk menyewa kamar yang di dalamnya
ada dua tempat tidur bertingkat, lumayan cukup untuk kami berempat.
Kak Phia juga ikut beristirahat, sedang dr.Abas dan dr.Putra
memilih beristirahat di luar hingga akhirnya merekapun masuk. Kami beristirahat
sejenak.
Saat tengah melabuhkan diri di dunia mimpi diatas tempat
tidur, tiba-tiba terdengar suara yang samar-samar, hanya sisa-sisa suara yang
ku dengar “Bocor, bocor”
Oh Tuhan, pikirku, apa lagi ini. Bocor kha?
Sontak membuat kami berempat membuka mata, aku membuka pintu,
kak Phia mulai meraih gagang pintu dan keluar melihat keadaan. Sesaat
setelahnya, terdengar pengumuman dari ABK kapal bahwa terdapat kapal nelayan
yang bocor dan kapal yang kami naiki berniat menolongnya. Oh. Aku legah.
Sejenak ku lihat kapal yang bocor itu, masih terombang ambing, dan masih
lumayan jauh. Ah aku masih pusing, aku masuk lagi, mencoba tidur.
Dr.Putra memilih keluar melihat keadaan di luar
Oke, karena sedang membawa kapal nelayan yang pecah di
belakang, kecepatan kapal dikurangi dan tentu saja semakin memperpanjang lama
perjalanan kami, dan ayunan kapal semakin terasa, benar-benar mengocok perut. Asssh,
aku ingin muntah.-_-.
*
Sesaat beristirahat, terdengar suara ketukan dari pintu kamar
“Ibu suster, ibu suster”
Aku tahu mereka sedang memanggil kak Phia, aku membuka pintu.
Ada bapak Bernard di depan pintu, bapak KP3 laut di Misool. Pak Bernard meminta
kak Phia untuk melihat kondisi ibu hamil trimester akhir yang sudah merasa
kesakitan di dek kapal paling bawah.
“wah… pikirku, jangan sampe melahirkan”
Kak Phia buru-buru ke bawah melihat kondisi ibu tersebut
bersama dr.Putra.
Dan aku, masih mual-mual. Dr.Abas juga sedang beristirahat,
sepertinya dia lelah.
Hingga beberapa saat, saat kapal tak begitu berayun karena
mulai memasuki pulau-pulau menuju Sorong, perutku mulai bersahabat. Dr.Abas
dengan gelarnya sebagai dokter, tentu saja pergi dan melihat keadaan ibu hamil
tersebut. Dan aku, karena penasaran, aku juga mulai pergi melihat keadaan ibu
hamil di dek kapal paling bawah.
| Ini dia nii, suasana tempat tidur ekonomi di KM.Fajar (tempat tidur ibu hamilnya di baris tengah) |
Dan cerita berkesan lainnya di kapal pun dimulai..
Ibu hamil yang merasa kesakitan ini berangkat tanpa melapor sebelumnya ke petugas kesehatan dan tidak membawa buku pink pemeriksaan kandungannya. Menurut anamnesis pasien, kemarin sudah keluar bercak dan cairan seperti air. Kemungkinan ketubannya sudah pecah. Namun siapa yang berani melakukan ‘pemeriksaan dalam’ saat tidak terdapat handscoon. Aku saja tak berani. Untuk menjaga segala kemungkinan, tim medis dadakan mulai menyiapkan segala keperluan untuk kelahiran bayi. Tempat tidur pasien di bawah sudah ditutup rapat dengan kain ala kadarnya, namun partus set, alat suntik, obat lainnya, mana bisa di ala kadarkan. Setelah berbicara dengan kapten kapal, dalam sejarah, kapal akan sandar di Seget (salah satu distrik di Sorong), dan mencari kelengkapan kelahiran di puskesmasnya. Sesaat sebelum kapal sandar di Seget, seorang wanita datang membawa alat partus set lengkap dengan oksitosin, ternyata wanita tersebut adalah seorang bidan. Karena terlalu senang dan legah, akhirnya langsung dikatakan kepada kapten agar tidak perlu sandar di Seget, karena alat sudah lengkap. Kapalpun kembali ke rutenya menuju Sorong. Namun setelah diperiksa kelengkapan alatnya, ternyata masih kurang satu perlengkapan yang tidak kalah penting, malah sangat penting. Handscoon. Belum ada handscoon. Ahhhhhh. Ingin teriak rasanya, kapal sudah mundur, dan rasanya kurang mungkin untuk meminta kapten kembali lagi (ini bukan kapal pribadi kami, hiks). Aku dan dr.Abas kembali ke atas, meminta ABK untuk mengumumkan kepada seluruh penumpang yang sekiranya sedang membawa handscoon agar dapat memberikannya kepada petugas medis demi persalinan.
Menurutku, tim medis dadakan sudah lengkap. Ada dua dokter
keren, satu bidan cantik, dua perawat kece, dan aku satu-satunya mahasiswa
kedokteran, hehe, walaupun sebenarnya aku tak bantu banyak, namun mata dan
pikiranku selalu siap dan terkesan melihat segala kejadian hari ini.
Dan wah, ide pengumuman dari dr.Abas membuahkan hasil, ada
seorang ABK yang datang membawa sarung tangan. Iya sarung tangan. Tapi sarung
tangan dapur. Dalam keadaan demikian, apapun yang memungkinkan harus disyukuri.
Handscoon ala kadar mulai di
sterilisasi dan direndam di air hangat. Sarung tangan dapur ini juga cukup
panjang hingga siku.
Tempat tidur ekonomi di dek paling bawah yang dikelilingi
oleh penumpang lain disulap menjadi ruang bersalin, segala alat disiapkan.
Ibunya sedang mencari posisi ternyamannya, dan mencoba berdamai dengan
kontraksi yang dari tadi ia rasakan.
Selama perjalanan, dokter dan tim medis lainnya selalu
melakukan observasi, menengok, memperhatikan tanda-tanda melahirkan pada
pasien. Oh iya dedek bayi merupakan anak ke-5, ini yang membuat dokter lebih
was-was selama di perjalanan karena lama kontraksi akan lebih cepat ke
arah persalinan (karena sudah ada pengalaman2 dari persalinan sebelumnya, hehe,
kurang lebih seperti itu penjelasannya).
*Singkat cerita, lampu-lampu Sorong mulai terlihat, semakin dekat,
semakin terang, dan akhirnya kapal mulai sandar di pelabuhan rakyat Sorong.
Kami mulai mengemasi barang bawaan. Bidan masih tetap
mengawasi ibu hamil tersebut. Saat penumpang lain sibuk untuk segera turun dari
kapal, kami tim medis dadakan malah sibuk menuruni tangga, seakan berlomba
berlari, secepatnya untuk tiba ke tempat tidur ibu hamil. Bagaimana tidak,
dedek bayinya sudah mulai keluar melewati jalan lahir. Waaaaaahhhhh😱. Jangan
panik😐. Bagaimana tak panik?, partus set sudah dibawa oleh bidan pemiliknya yang sudah turun duluan setelah kapal sampai di Sorong. Hadeuh.
Ibu masih mengedan, dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, dengan sisa-sisa alat seadanya. Persalinan pun dilakukan😮🙏. Perlahan, dengan bantuan arahan dari dokter, bidan Gaya dan kak Phia mulai membantu ibu melahirkan bayinya. Bidan gaya mengenakan sarung tangan dapur tadi dan terlihat kebesaran di tangannya yang kecil. Mengedan. Pelan. Perlahan. Mulai Keluar, dan iyaps suara tangis bayipun terdengar, mengisi setiap sudut dek paling bawah kapal ini.
Alhamdulillah. Akhirnya adiknya lahir, di atas kapal, di atas tempat tidur ekonomi, dengan menggunakan alat seadanya, bukan seadanya, malah bisa dikatakan kurang. Tidak terdapat klem, gunting untuk memotong dan menjepit tali pusar, alkohol sebagai antiseptik juga tidak ada. Tali pusar dedek bayi tidak dipotong hanya diikat dengan kain kassa. cairan infus, dispo, dan kain kassa juga didapatkan dari perlengkapan infus adik Zahra yang diberikan oleh Paman Ali, perawat Dabatan yang mengantar adik Zahra ke Sorong bersama dengan kapal yang hari ini kami naiki. Dan mengganti alkohol dengan menggunakan pencuci tangan milikku ‘Antis’ (nggak promosi looh yaa, hehe).
Ibu masih mengedan, dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, dengan sisa-sisa alat seadanya. Persalinan pun dilakukan😮🙏. Perlahan, dengan bantuan arahan dari dokter, bidan Gaya dan kak Phia mulai membantu ibu melahirkan bayinya. Bidan gaya mengenakan sarung tangan dapur tadi dan terlihat kebesaran di tangannya yang kecil. Mengedan. Pelan. Perlahan. Mulai Keluar, dan iyaps suara tangis bayipun terdengar, mengisi setiap sudut dek paling bawah kapal ini.
Alhamdulillah. Akhirnya adiknya lahir, di atas kapal, di atas tempat tidur ekonomi, dengan menggunakan alat seadanya, bukan seadanya, malah bisa dikatakan kurang. Tidak terdapat klem, gunting untuk memotong dan menjepit tali pusar, alkohol sebagai antiseptik juga tidak ada. Tali pusar dedek bayi tidak dipotong hanya diikat dengan kain kassa. cairan infus, dispo, dan kain kassa juga didapatkan dari perlengkapan infus adik Zahra yang diberikan oleh Paman Ali, perawat Dabatan yang mengantar adik Zahra ke Sorong bersama dengan kapal yang hari ini kami naiki. Dan mengganti alkohol dengan menggunakan pencuci tangan milikku ‘Antis’ (nggak promosi looh yaa, hehe).
Persalinan bukan hanya sekedar melahirkan dedek bayinya,
namun juga melahirkan plasentanya, dan melihat keadaan bayinya. Setelah dedek
bayi lahir, diikuti oleh plasenta yang selanjutnya belum diputuskan, plasenta
dimasukkan ke dalam kantung plastik kresek berwarna merah putih dan dibawah bersama dedeknya menuju rumah
sakit untuk selanjutnya diputuskan di sana. Keadaan dedek bayinya?, tenang
saja, dr.Putra merawatnya dengan sangat baik, ia tampak sehat, berjenis kelamin
perempuan. Adik bayi dibungkus dengan kain berwarna kuning, ia lahir hari ini, 07 Juni 2018, pukul
20.20 WIT dengan berat sekitar 3 kilo lebih.
Bukan hanya keluarga dan kami yang bahagia. Kapten dan ABK
kapal juga turut senang menyambut kelahiran dedek malam itu di atas kapal. Tak
seperti bayi lainnya, tempat pertama yang ia jajaki bukan di RS tapi di atas
kapal ini, KM Fajar Baru. Kapten datang kepada nenek dan ibu dedek bayi, dan
mengatakan pimpinan besar KM Fajar akan memberikan nama kepada dedek bayinya. Nenek
dan ibu bayi dengan senang hati menerimanya, dan diberilah nama “Indah
Ramadhani”. Indah seperti nama perusahaan kapalnya dan Ramadhani karena lahir
pada bulan Ramadhan. Tapi namanya sama yaa seperti namaku, Ah ku baper. Hihi.
Setelah memastikan keadaan ibu dan bayi baik-baik saja, setelah
membersihkan tempat persalinan dadakan, ibu dan dedek bayinya dibawah ke rumah
sakit untuk mendapatkan penanganan lanjut. Sekian, kami hanya mengantarkannya
hingga di depan angkot yang akan membawa mereka menuju RS, tim medis yang ikut mendampingi
hingga ke RS yaitu bidan Gaya. Sebenarnya
aku tak turut turun mengantar dedek bayi hingga ke mobil, karena aku harus
menjaga barang-barang kami di dek bawah yang sejak tadi ditinggalkan karena fokus
untuk persalinan di kapal.
Malam itu, tak seperti malam-malam sebelumnya di kapal, ada yang lain, ada yang lahir, si dedek bayi mungil yang membuat kisah tak terlupakan hari itu, dokter dan tim medis lainnya seperti artis dan pahlawan yang patut untuk dikenang, mereka difoto oleh orang-orang yang turut takjub melihat perjuangan mereka. Akupun takjub. Wah……. 👶
Malam itu, tak seperti malam-malam sebelumnya di kapal, ada yang lain, ada yang lahir, si dedek bayi mungil yang membuat kisah tak terlupakan hari itu, dokter dan tim medis lainnya seperti artis dan pahlawan yang patut untuk dikenang, mereka difoto oleh orang-orang yang turut takjub melihat perjuangan mereka. Akupun takjub. Wah……. 👶
![]() |
| Foto penutup akhir cerita, semoga adiknya menjadi anak yang sholehah yaa💛, Aamiin Tebak sendiri yaa orang-orangnya, yang jelas tak ada ane di foto itu😁 |
*,*
Sekian cerita pengalamanku dari kampung kali ini, ada banyak
pelajaran yang kuambil mulai dari ilmu kedokterannya, etika, profesionalisme,
kemanusiaan dan masih banyak lagi. Pengalaman ini benar membuat perasaanku
campur aduk, mulai dari khawatir, cemas, bangga, deg-deg-an, takut, sedih,
kecewa, dan bahagia. Namun percayalah, dari warna-warni rasa itu yang dominan
adalah bahagianya. Hehe.
Bye🙋
Wassalamualaikum wr wb.
Wassalamualaikum wr wb.
Kota Sorong,
Rabu, 14 Juni 2018 (H-1 Idul Fitri 1439 H)


Comments
Post a Comment